Bengkulu – Ketua BEM FKIP Universitas Bengkulu, Foiril Agustin, memimpin penyampaian pernyataan sikap mahasiswa dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di lingkungan kampus Universitas Bengkulu, Sabtu (2/5).
Aksi yang melibatkan BEM FKIP bersama Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UNIB itu menyoroti sejumlah persoalan mendasar pendidikan nasional, mulai dari kondisi infrastruktur sekolah hingga kesejahteraan tenaga pendidik.
Dalam tuntutannya, mahasiswa mendesak pemerintah melakukan audit terbuka terhadap kondisi bangunan sekolah di seluruh Indonesia, serta mempublikasikan daftar sekolah yang dinilai tidak layak.
Selain itu, peningkatan kesejahteraan guru, khususnya honorer, menjadi sorotan utama. Mahasiswa menilai gaji tenaga pendidik harus berada di atas standar upah minimum sebagai bentuk penghargaan terhadap peran mereka.
“Kami menuntut pemerintah benar-benar menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama, bukan sekadar agenda seremonial tahunan,” tegas Foiril Agustin.
Mahasiswa juga menolak penggunaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen untuk program di luar fungsi pendidikan, serta mendesak pemerataan sarana dan prasarana, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut mereka, ketimpangan fasilitas pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan segera dari pemerintah.
Di sisi lain, mahasiswa turut mengkritik pandangan yang menyalahkan mahasiswa dan program studi atas tingginya angka pengangguran.
Mereka menilai persoalan tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja dan melakukan pemetaan sumber daya manusia secara tepat.
Aksi Hardiknas ini ditutup dengan seruan solidaritas dari massa mahasiswa sebagai bentuk komitmen mengawal masa depan pendidikan yang lebih adil dan merata.
“Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan Indonesia!” seru massa aksi.





