Rektor UMB Soroti Wacana Pemindahan Makam Fatmawati, Tekankan Kajian Sosial Mendalam
Dosen Sosiologi sekaligus Rektor UMB, Dr. Susiyanto., M.Si. (Foto. Istimewa)

Rektor UMB Soroti Wacana Pemindahan Makam Fatmawati, Tekankan Kajian Sosial Mendalam

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Wacana pemindahan makam Ibu Negara pertama RI, Fatmawati Soekarno, dari Jakarta ke Bengkulu dinilai tidak bisa dipandang sekadar persoalan administratif. Akademisi sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Dr Susiyanto MSi, menilai rencana tersebut menyangkut identitas daerah, memori kolektif masyarakat, hingga dampak sosial yang lebih luas.

Menurut Susiyanto, keberadaan makam Fatmawati pada dasarnya tidak menjadi persoalan, baik tetap berada di Jakarta maupun dipindahkan ke Bengkulu sebagai tanah kelahirannya. Namun, ia menegaskan keputusan terkait pemindahan makam tokoh nasional harus melalui pertimbangan yang matang.

“Saya pikir tidak ada masalah makam beliau berada di mana pun. Kita doakan semoga almarhumah husnul khatimah dan ditempatkan di surga,” ujar Susiyanto.

Sebagai dosen sosiologi, ia memandang pemindahan makam seorang tokoh bangsa tidak hanya berkaitan dengan lokasi pemakaman. Menurutnya, ada aspek simbolik, sejarah, hubungan keluarga, hingga penerimaan sosial masyarakat yang perlu diperhatikan secara serius.

Ia menilai pemerintah daerah perlu melibatkan banyak pihak sebelum mengambil keputusan, mulai dari keluarga Fatmawati, tokoh agama, budayawan, akademisi, masyarakat Bengkulu, hingga pemerintah pusat.

“Kalau memang lebih banyak manfaatnya bagi Bengkulu dan masyarakat, tentu bisa dipertimbangkan. Namun semuanya harus melalui kajian yang sangat matang,” katanya.

Susiyanto menjelaskan, dalam perspektif sosiologi, pemindahan makam Fatmawati dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas daerah dan menjaga ingatan kolektif masyarakat Bengkulu terhadap salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Indonesia.

Fatmawati dikenal sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih sekaligus istri Presiden pertama RI, Soekarno. Sosoknya memiliki hubungan historis kuat dengan Bengkulu karena lahir di daerah tersebut dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Di sisi lain, Susiyanto mengingatkan agar wacana tersebut juga dilihat dari manfaat sosial yang dapat ditimbulkan. Ia menyebut pemindahan makam bisa menjadi sarana edukasi sejarah, membangun kebanggaan generasi muda, hingga mendorong pengembangan wisata sejarah di Bengkulu.

Namun ia menegaskan, apabila hasil kajian justru menunjukkan potensi persoalan sosial atau tidak memberikan dampak positif yang signifikan, maka rencana tersebut sebaiknya tidak diteruskan.

“Jika berbagai aspek itu tidak memberikan dampak yang positif, ya tidak perlu dipindahkan,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bengkulu menyiapkan kawasan Taman Remaja sebagai pusat terpadu yang akan direvitalisasi seiring rencana pengusulan pemindahan makam Fatmawati Soekarno ke Bengkulu.

Rencana itu dibahas dalam rapat pembentukan tim kajian yang dipimpin Asisten I Setda Provinsi Bengkulu Khairil Anwar bersama sejumlah organisasi perangkat daerah di Kantor Gubernur Bengkulu, Rabu (6/5/2026).

Khairil menyebut kawasan Taman Remaja nantinya tidak hanya menjadi lokasi makam, tetapi juga dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah yang dilengkapi masjid, jogging track, dan sentra UMKM.

Fatmawati Soekarno lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923. Ia wafat di Malaysia pada 14 Mei 1980 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Atas jasa-jasanya, Fatmawati dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000 pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.

Gambar Gravatar
Wartawan berita daerah yang konsisten mengikuti perkembangan isu regional, kebijakan pemerintah setempat, serta berbagai peristiwa penting di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *