Bengkulu – Sebanyak 17 ekor Gajah Sumatera liar terpantau di kawasan Bentang Alam Seblat melalui monitoring menggunakan drone thermal yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama tim konservasi di Bengkulu.
Kelompok gajah tersebut terdiri dari 13 ekor remaja hingga dewasa serta empat ekor anakan. Temuan ini dinilai menjadi sinyal penting bahwa proses reproduksi populasi gajah masih berlangsung di habitat alami kawasan Seblat.
Monitoring menggunakan teknologi drone thermal itu menjadi metode pertama yang diterapkan di kawasan Bentang Alam Seblat sebagai bagian dari penguatan perlindungan satwa liar, khususnya gajah Sumatera yang terus menghadapi tekanan serius akibat degradasi habitat dan konflik dengan manusia.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan penggunaan drone thermal sangat membantu tim dalam memantau keberadaan kelompok gajah liar tanpa mengganggu perilaku alami satwa.
“Penggunaan drone thermal dalam monitoring gajah liar di Bentang Alam Seblat merupakan terobosan baru yang sangat membantu tim di lapangan,” ujar Agung.
Menurutnya, dari hasil pemantauan tersebut, tim dapat mengetahui langsung struktur populasi kelompok gajah yang berada di kawasan hutan Bengkulu. Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kehutanan dalam memperkuat perlindungan dan pelestarian gajah Sumatera.
“Dari hasil pemantauan ini, kita dapat mengetahui secara langsung keberadaan kelompok gajah beserta struktur populasinya tanpa memberikan gangguan yang signifikan terhadap satwa,” katanya.
Kegiatan monitoring ini dilakukan di tengah meningkatnya sorotan terhadap kondisi habitat gajah di Bengkulu, menyusul kematian dua ekor gajah Sumatera, terdiri dari induk dan anak, di kawasan Hutan Produksi Air Teramang pada akhir April lalu.

Peristiwa itu memicu perhatian berbagai pihak karena lokasi kematian berada di area konsesi perusahaan yang berbatasan langsung dengan jalur lintasan alami gajah liar di kawasan Seblat.
Direktur Genesis Bengkulu, Egi Ade Saputra, sebelumnya menilai kematian gajah tersebut menjadi indikasi adanya tekanan serius terhadap habitat satwa dilindungi di Bengkulu.
“Ketika hutan berubah menjadi sawit, yang hilang bukan hanya pohon, tapi jalur jelajah dan sumber pakan gajah,” kata Egi.
Genesis mencatat kawasan konsesi di sekitar habitat gajah mengalami perubahan tutupan hutan yang dinilai mempercepat fragmentasi habitat di Bentang Alam Seblat, koridor penting penghubung habitat gajah dengan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Sementara itu, Agung Nugroho menegaskan kelompok gajah yang terpantau melalui drone thermal baru merupakan satu dari beberapa kelompok liar yang berada di kawasan Seblat. Karena itu, monitoring dan pengamanan habitat akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga habitat gajah sumatera dan mendukung upaya konservasi yang sedang dilakukan. Keberadaan gajah sumatera merupakan bagian penting dari ekosistem hutan yang harus kita jaga bersama,” tutupnya.





