BBM Bengkulu Stabil, Wagub Mian Awasi Distribusi
Ilustrasi warga mengantre BBM di SPBU. (Foto: Ardiyanto/repoeblik.com)

Sumardi Soroti Dampak Kenaikan BBM, Warga Diminta Bersiap Hadapi Tekanan Inflasi

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Ketua DPRD Provinsi Bengkulu Sumardi mengingatkan masyarakat mulai beradaptasi menghadapi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, menyusul potensi tekanan inflasi yang dinilai bisa merembet ke berbagai sektor kebutuhan.

Peringatan itu disampaikan Sumardi menyusul penyesuaian harga sejumlah BBM non-subsidi oleh PT Pertamina (Persero) yang mulai berlaku 18 April 2026, termasuk Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo yang mengalami kenaikan.

Menurut Sumardi, dampak kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan di sektor transportasi, tetapi berpotensi memicu efek domino terhadap biaya distribusi dan harga barang di pasaran.

“Yang jelas kenaikan ini akan berdampak luas terhadap kenaikan barang dan jasa serta inflasi. Itu sudah pasti,” ujar Sumardi, Jumat (24/4).

Ia menilai kenaikan harga energi hampir selalu berujung pada kenaikan biaya logistik yang kemudian memengaruhi harga kebutuhan masyarakat, mulai dari sektor jasa hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

“Kalau tiket naik, biaya kargo juga naik. Artinya barang-barang ikut naik. Bahkan dari hal kecil seperti plastik kantong sampah pun berpotensi naik,” katanya.

Sumardi mengakui tekanan terhadap daya beli masyarakat sulit dihindari, terutama untuk belanja di luar kebutuhan pokok. Namun ia meminta masyarakat tidak panik dan mulai menyesuaikan pola konsumsi agar lebih efisien.

“Kita tidak perlu menjalani hal-hal berlebihan. Kurangi perjalanan yang tidak penting, hemat penggunaan bahan bakar. Ini bagian dari adaptasi kehidupan baru,” tegasnya.

Ia juga menilai peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia, dan pemerintah daerah penting untuk menahan dampak lanjutan agar inflasi tetap terkendali.

Di sisi lain, penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan Pertamina mengikuti Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar penjualan eceran BBM umum.

Untuk wilayah Bengkulu, harga Pertamax kini berada di Rp12.600 per liter, Pertamax Turbo Rp19.850 per liter, Dexlite Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.450 per liter. Sementara Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Sumardi menilai kondisi ini harus disikapi dengan kewaspadaan, namun juga rasionalitas, karena tekanan ekonomi membutuhkan respons bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

“Mau tidak mau daya beli akan turun. Kecuali untuk kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan,” ujarnya.

Dengan kenaikan BBM mulai memberi efek pada biaya hidup, DPRD Bengkulu mendorong masyarakat mulai menerapkan pola belanja yang lebih selektif sembari berharap langkah pengendalian inflasi mampu menjaga stabilitas harga di daerah.

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *