Massa Demo “Indonesia Gelap” Kecewa, 8 Tuntutan Gagal Disampaikan ke DPRD Bengkulu
Bengkulu – Ribuan mahasiswa yang mengatasnamakan gerakan Indonesia Gelap akhirnya membubarkan diri setelah berjam-jam berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu, Jumat sore (29/8/2025). Namun, mereka pulang dengan rasa kecewa karena tuntutan yang dibawa tidak dapat disampaikan langsung kepada para wakil rakyat.
Selain itu, massa juga menuding aparat kepolisian tidak memberi akses untuk masuk ke gedung dewan, sehingga sebagian mahasiswa nekat memanjat pagar pembatas.
“Sepertinya mereka sedang tidur di dalam, sanak. Tadi sudah ketemu sama Sumardi, tapi beliau enggan menjawab tuntutan kami,” ujar Taufi Khirul Fajar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa delapan tuntutan utama, di antaranya:
- Mendesak pemerintah menarik kenaikan tunjangan DPR dan menuntut DPR memprioritaskan kinerja legislasi, pengawasan, dan representasi rakyat.
- Mendesak DPR RI meninjau kembali RUU KUHAP, khususnya pasal-pasal bermasalah seperti pasal 1 angka 4, pasal 84, pasal 90, pasal 93, pasal 105, pasal 145 ayat (1), dan lainnya.
- Menuntut DPR RI dan Pemerintah mencabut UU TNI yang dinilai masih bermasalah, serta menolak segala bentuk intervensi dan intimidasi yang mengancam kebebasan sipil.
- Mendesak DPR dan Pemerintah segera mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai langkah memperkuat pemberantasan korupsi.
- Mendesak Presiden RI mencabut Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran yang dianggap berdampak negatif pada kesejahteraan rakyat.
- Menuntut pemerintah meninjau dampak ekonomi dan sosial sebelum menetapkan kenaikan pajak di berbagai sektor.
- Mendesak Presiden dan DPR melakukan reformasi kelembagaan Polri, mengingat tindakan represif aparat yang dianggap mencederai hak konstitusional rakyat.
- Mendesak Presiden RI menghentikan praktik rangkap jabatan oleh menteri maupun wakil menteri karena berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Info yang diterima redaksi, hingga malam ini, belum ada respon resmi dari DPRD Provinsi Bengkulu atas tuntutan yang disuarakan mahasiswa. Sementara aparat kepolisian masih melakukan penjagaan ketat di sekitar gedung dewan untuk mengantisipasi kericuhan susulan.





