Ekomarin Gelar Diskusi Perikanan Bengkulu, Soroti Perlindungan Nelayan Tradisional
Ekomarin Gelar Diskusi Perikanan Bengkulu, Soroti Perlindungan Nelayan Tradisional (dok:ekomarin)

Ekomarin Gelar Diskusi Perikanan Bengkulu, Soroti Perlindungan Nelayan Tradisional

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Organisasi Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) menggelar diskusi publik bertema kolaborasi pengelolaan perikanan berkelanjutan di Bengkulu, dengan fokus utama perlindungan ruang tangkap nelayan tradisional yang kian terdesak.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung Rabu (15/4/2026) di Adeeva Hotel, kawasan Pantai Panjang, Kota Bengkulu itu akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil hingga komunitas nelayan.

Koordinator Nasional Ekomarin, Marthin Hadiwinata, dalam undangannya menyebut forum ini menjadi ruang dialog multipihak untuk mencari model kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

“Hasil kegiatan ini akan menjadi masukan dalam penyusunan rekomendasi serta penguatan dialog untuk mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Isu utama yang diangkat dalam diskusi tersebut berkaitan dengan tekanan yang dihadapi nelayan tradisional di Bengkulu, terutama menyangkut perlindungan wilayah tangkap dan praktik penangkapan ikan.

Berdasarkan hasil analisis sosial Ekomarin bersama Kanopi Hijau Indonesia sejak Juni 2025 hingga Februari 2026, nelayan di sejumlah wilayah seperti Pasar Seluma dan Pasar Palik masih menghadapi persoalan operasional alat tangkap tidak ramah lingkungan, termasuk pukat trawl.

Padahal, penggunaan alat tangkap tersebut telah dilarang melalui regulasi pemerintah, namun di lapangan masih ditemukan dinamika yang memerlukan penanganan bersama.

Dalam forum itu, Ekomarin juga akan memaparkan kondisi sosial ekonomi nelayan tradisional, sekaligus membuka ruang dialog antara masyarakat pesisir dengan pemerintah dan pemangku kebijakan.

Selain itu, diskusi ini ditujukan untuk mengangkat pengalaman langsung nelayan sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Sejumlah instansi dijadwalkan hadir sebagai narasumber, di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi Bengkulu, Dinas Kelautan dan Perikanan, Satuan Pengawas SDKP, Ombudsman, DPRD, hingga kepolisian.

Forum tersebut juga melibatkan berbagai elemen, termasuk akademisi, organisasi kepemudaan, NGO, hingga perwakilan nelayan tradisional.

Ekomarin berharap, hasil diskusi dapat mendorong kolaborasi konkret dalam memperkuat perlindungan ruang tangkap nelayan kecil sekaligus memastikan praktik perikanan yang lebih berkelanjutan di Bengkulu.

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *