Jakarta – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin menyatakan dukungannya terhadap sikap netral Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi konflik antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran yang tengah memanas.
Pernyataan dukungan itu disampaikan Sultan usai menghadiri peringatan malam Nuzul Qur’an di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Menurutnya, sikap netral Presiden merupakan bagian dari implementasi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip diplomasi Indonesia.
“Sikap Netral terhadap para pihak yang berkonflik adalah wujud politik bebas aktif diplomasi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa kita harus menghormati pandangan, sikap dan keputusan pemimpin Nasional kita tersebut,” ujar Sultan.
Ia menambahkan, dalam perjalanan sejarah diplomasi Indonesia, negara ini dikenal sebagai salah satu penggagas Gerakan Non-Blok di tengah rivalitas dua kekuatan global pada masa lalu.
“Kami sangat memahami Dan sepenuhnya mendukung sikap diplomatic Presiden Prabowo yang demikian bijaksana demi kepentingan bangsa Dan Negara. President berupaya menjaga hubungan baik dengan semua negara,” tegasnya.
Sultan juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Presiden Prabowo yang sebelumnya menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamaeni. Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan empati Indonesia terhadap bangsa Iran.
“Tentunya Ucapan belasungkawa President tersebut mewakili seluruh Bangsa Indonesia kepada bangsa Iran,” ujar mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu.
Ia menilai, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, masyarakat Indonesia memiliki rasa empati terhadap korban konflik yang terjadi di Iran. Namun di sisi lain, Indonesia juga tetap menghormati kebijakan luar negeri negara-negara sahabat lainnya.
“Prinsipnya President ingin mengedepankan politic luar negeri bebas aktif Dan non blok. Karena semua pihak yang bertikai adalah sahabat baik Indonesia,” tutupnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tetap memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah dinamika konflik global yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden pada Senin (9/3/2026) di sela peresmian 218 jembatan secara hybrid melalui konferensi video dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang diikuti sejumlah daerah di Indonesia.





