Bengkulu – Komandan Kodiklat TNI Letjen TNI Mohamad Naudi Nurdika memimpin langsung latihan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami di Bengkulu, Sabtu (18/4), sebagai upaya menguji koordinasi lintas sektor di wilayah rawan megathrust.
Latihan yang dipusatkan di Lapangan STQ UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ini melibatkan TNI, Polri, Basarnas, BMKG, serta pemerintah daerah. Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni turut hadir meninjau jalannya simulasi.
Dalam latihan tersebut, skenario penanganan bencana dijalankan secara menyeluruh, mulai dari pencarian korban di pesisir Pantai MD Land, evakuasi, hingga pendirian posko, dapur umum, dan distribusi logistik.
Naudi menegaskan, latihan ini dirancang untuk membangun kebiasaan tanggap darurat sekaligus menyatukan pola pikir antarinstansi agar respons di lapangan lebih cepat dan terukur.
“Melalui latihan ini, kita ingin membiasakan diri dan menyatukan cara pandang, sehingga ketika bencana terjadi, semua pihak sudah siap dan mengetahui langkah yang harus dilakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tujuan jangka panjang dari kegiatan ini adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.
“Outcome besarnya adalah masyarakat diharapkan sadar bencana, minimal mampu mengamankan diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya,” kata dia.
Latihan ini merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang menjadi mandat TNI dalam membantu penanggulangan bencana sekaligus meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Sementara itu, Herwan Antoni menilai simulasi gabungan seperti ini penting untuk menguji kesiapan yang selama ini baru sebatas konsep di atas kertas.
“Secara konsep kita sudah punya skema dari simulasi hingga evakuasi. Tapi implementasi di lapangan melalui latihan seperti ini yang memastikan kesiapan benar-benar teruji,” ujarnya.
Di sisi lain, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyebut sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami di wilayah yang berada di kawasan Ring of Fire tersebut.
“Kita berada di area rawan, jadi pembagian peran itu penting. TNI, BPBD, Kota, dan Provinsi harus selaras dalam aksi pencegahan maupun penanggulangan,” ucapnya.
Pemerintah Kota Bengkulu pun berencana menggelar simulasi bencana skala besar pada akhir 2026. Kegiatan itu akan melibatkan masyarakat luas, termasuk pelajar, untuk memperkuat edukasi jalur evakuasi dan langkah penyelamatan sejak dini.
Dedy juga memastikan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu guna mematangkan kesiapan teknis simulasi lanjutan tersebut.
Meski berbagai langkah mitigasi terus disiapkan, ia mengajak masyarakat tetap waspada sekaligus berdoa agar Bengkulu terhindar dari bencana.





