Alaku

Ketua APPI Kaur Desak Polisi Usut Hilangnya Alkes RSUD Bernilai Rp502 Juta

Ketua DPD APPI Kabupaten Kaur, Epsan Sumarli (foto: dok pribadi)

Kaur – Ketua DPD APPI Kabupaten Kaur, Epsan Sumarli, mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan hilangnya sejumlah alat kesehatan (alkes) di RSUD Kaur yang nilainya mencapai lebih dari Rp500 juta.

Kasus hilangnya aset rumah sakit daerah itu kembali menjadi sorotan setelah temuan tersebut disebut masuk dalam laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Bengkulu terkait pengadaan tahun anggaran 2024.

Epsan menilai hilangnya alat kesehatan yang bersumber dari anggaran pemerintah tidak bisa dianggap persoalan biasa dan harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Karena ini menggunakan dana pemerintah, tidak bisa selesai begitu saja. Nilai pengadaannya juga sangat besar, lebih dari setengah miliar rupiah. Harus ada pihak yang bertanggung jawab,” kata Epsan Sumarli, Jumat (15/5/2026).

Ia meminta Polres Kaur bersama Polda Bengkulu segera memperjelas penanganan kasus tersebut agar masyarakat memperoleh kepastian hukum.

Menurutnya, publik berhak mengetahui bagaimana aset rumah sakit dengan nilai fantastis itu bisa hilang dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, alat kesehatan yang dilaporkan hilang merupakan pengadaan alat kedokteran transfusi darah tahun 2024 di RSUD Kaur dengan nilai mencapai Rp502.140.000.

Sejumlah barang yang dilaporkan tidak diketahui keberadaannya antara lain Raynusa Diagnostic Centrifuge, Mikroskop Olympus CX23, Water Bath DSW-30, stetoskop tensimeter, stripper, dressing jar stainless steel, dan electric sealer.

Mantan Direktur RSUD Kaur, dr. Naek Subroto, sebelumnya membenarkan bahwa hilangnya alat kesehatan tersebut merupakan temuan BPK Bengkulu.

“Barang yang hilang itu temuan BPK juga. Kita sudah sampaikan laporan ke Polres Kaur atas kehilangan tersebut,” ujar dr. Naek seperti dikutip dari media lokal.

Ia menjelaskan pihak rumah sakit sebelumnya telah meminta penjelasan kepada pegawai yang menangani barang-barang tersebut. Namun karena tidak ada kejelasan terkait keberadaan alat kesehatan itu, laporan akhirnya disampaikan ke kepolisian.

“Kejadian ini sudah dilaporkan ke Polres Kaur. Sampai sekarang belum ada yang ditemukan, baik barang maupun pelakunya,” katanya.

Kasus hilangnya alat kesehatan itu kini memunculkan sorotan terhadap sistem pengelolaan aset dan pengawasan barang di lingkungan RSUD Kaur, terutama terkait proses penyimpanan serta pengadaan barang milik daerah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan