Sarasehan Ekonomi 2026: Bengkulu Jaga Stabilitas, Pertumbuhan Tetap Positif di Tengah Tekanan Global
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, RA Denni saat Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (9/4).(dok:pemprovbkl)

Sarasehan Ekonomi 2026: Bengkulu Jaga Stabilitas, Pertumbuhan Tetap Positif di Tengah Tekanan Global

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

BengkuluPemerintah Provinsi Bengkulu menegaskan komitmennya menjaga stabilitas perekonomian daerah di tengah tekanan geopolitik global melalui Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (9/4).

Forum yang mengangkat diseminasi LPP Februari 2026 dan KFR Triwulan I 2026 itu menjadi ruang konsolidasi lintas lembaga untuk membaca arah ekonomi Bengkulu. Kegiatan dibuka Sekretaris Daerah yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, RA Denni, serta dihadiri Forkopimda, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik, dan sejumlah instansi terkait.

Dalam paparannya, RA Denni menyebut perekonomian Bengkulu sepanjang 2025 tumbuh 4,82 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 4,62 persen, sekaligus menempatkan Bengkulu mendekati rata-rata pertumbuhan Sumatra sebesar 4,81 persen dan nasional 5,11 persen.

“Inflasi Bengkulu tetap terkendali di level 2,7 persen,” kata RA Denni.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi daerah masih ditopang sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan. Pemerintah daerah juga mengandalkan program ketahanan pangan, pengembangan komoditas kopi, serta penguatan pelaku UMKM sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

Di tengah capaian tersebut, Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu mengingatkan adanya potensi perlambatan pada awal tahun ini. Deputi Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 berada di kisaran 4,47 hingga 5,03 persen.

Menurutnya, perlambatan dipengaruhi penurunan transfer ke daerah serta belum pulihnya sektor pertambangan. Meski demikian, tekanan harga masih relatif terjaga, dengan inflasi Maret 2026 tercatat 2,85 persen atau lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen.

Sementara itu, Kepala Kanwil DJPb Bengkulu, Mohamad Irfan Surya Wardana, melaporkan kinerja fiskal daerah hingga Februari 2026 menunjukkan pendapatan negara telah mencapai Rp409,5 miliar. Pada periode yang sama, realisasi belanja tercatat Rp942,94 miliar, sedangkan penyaluran transfer ke daerah sudah menyentuh Rp1,9 triliun.

Di sisi lain, sorotan juga datang dari dinamika ekonomi global. Dendi Ramdani dari Bank Mandiri mengingatkan risiko geopolitik yang dapat memicu tekanan terhadap harga minyak dunia, yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi lebih luas.

Namun demikian, ia menilai Bengkulu masih memiliki ruang optimisme. Sektor telekomunikasi, kesehatan, dan manufaktur disebut tetap prospektif untuk menopang pertumbuhan, di tengah upaya daerah menjaga momentum ekonomi pada 2026.

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *