RSHD Kota Bengkulu Fasilitasi Tes Kesehatan CPPPK dengan Biaya Sesuai Peraturan Walikota
Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Harapan dan Doa (RSHD) dr. Lista Cerlyviera MM saat menjelaskan bahwa tes kesehatan bagi calon PPPK Kota Bengkulu dilaksanakan di RSHD (Foto: Awang Konaevi/repoeblik.com)

Perluasan RSHD Kota Bengkulu Ditunda Dampak Efisiensi Anggaran

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Rencana perluasan Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu resmi ditunda karena kondisi keuangan daerah yang saat ini difokuskan pada efisiensi anggaran. Keputusan ini berdampak pada sejumlah rencana pengembangan fasilitas kesehatan yang sebelumnya telah disiapkan.

Direktur RSHD dr Lista Cerlyviera menjelaskan bahwa perluasan direncanakan dengan memanfaatkan gedung lama Dinas Sosial Provinsi Bengkulu yang rencananya akan dihibahkan kepada Pemerintah Kota. Pengembangan tersebut mencakup pembebasan lahan, perluasan instalasi gawat darurat, hingga penambahan ruang rawat inap. Total kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp20 miliar dengan target meningkatkan kapasitas tempat tidur dari 176 menjadi 200 unit.

“Program ini belum dapat direalisasikan karena Pemkot Bengkulu memprioritaskan anggaran untuk pembangunan infrastruktur permukiman, penataan kota, dan program peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar dr Lista pada Senin 17 November 2025.

Meski pembangunan fisik tertunda, RSHD tetap melakukan peningkatan kualitas layanan. Pada tahun depan, setelah proses kredensialing BPJS rampung, rumah sakit mulai membuka layanan operasi mata. “Ruang operasi belum ditambah, tetapi jadwal akan kami atur sesuai kuota BPJS,” jelasnya.

RSHD juga memperkuat kapasitas dokter dengan memaksimalkan tenaga spesialis yang ada, termasuk spesialis paru, serta melakukan penambahan dokter jiwa. Sejumlah peningkatan fasilitas tetap berjalan, terutama program yang didukung pemerintah pusat seperti penguatan layanan NICU yang dijadwalkan selesai pada 2026.

dr Lista turut menjelaskan adanya perubahan kebijakan nasional yang kini menilai rumah sakit berdasarkan kompetensi layanan, bukan lagi sekadar mengacu pada kelas A, B, atau C. “Walaupun tetap kelas C, jika layanan paripurna tersedia, masyarakat akan tetap memilih RSHD,” tegasnya.

Selain itu, RSHD menargetkan layanan kateterisasi jantung beroperasi pada akhir 2026 setelah peralatan dari Kemenkes tiba dan pendidikan dokter selesai. Pengembangan layanan neurointervensi juga tengah dipersiapkan untuk mempercepat penanganan kasus kegawatdaruratan otak.

Dengan berbagai langkah penguatan layanan tersebut, dr Lista optimistis RSHD tetap mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat meski rencana perluasan lahan harus ditunda sementara. (ADV)

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *