Bengkulu – Dua ekor gajah Sumatera yang terdiri dari induk dan anak ditemukan mati di area konsesi perkebunan swasta di Provinsi Bengkulu, Kamis (30/4/2026). Kasus ini langsung ditangani Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) karena melibatkan satwa dilindungi.
Penemuan bangkai gajah tersebut terjadi di kawasan yang berbatasan langsung dengan hutan, yang selama ini dikenal sebagai jalur perlintasan alami gajah liar.
Petugas lapangan menyebutkan, kedua gajah yang ditemukan terdiri dari satu induk betina dan seekor anak yang masih kecil. Namun, jenis kelamin anak gajah itu belum dapat dipastikan saat pertama kali ditemukan.
Lokasi penemuan berada di wilayah konsesi perkebunan milik pihak swasta. Tim BKSDA bersama aparat terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal sekaligus mengamankan area guna kepentingan penyelidikan.
Hingga kini, penyebab kematian kedua satwa tersebut masih dalam proses pendalaman. Otoritas konservasi belum dapat memastikan apakah kematian disebabkan faktor alami, penyakit, konflik dengan manusia, atau indikasi lain yang berkaitan dengan aktivitas di sekitar kawasan.
Peristiwa ini kembali menyoroti tekanan terhadap habitat gajah Sumatera yang terus menyempit akibat alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di wilayah perbatasan kawasan hutan dan area produksi.
Gajah Sumatera saat ini berstatus kritis, sehingga kematian induk dan anak sekaligus menjadi perhatian serius dalam upaya pelestarian spesies tersebut.
BKSDA bersama aparat penegak hukum menegaskan investigasi akan terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian, sekaligus memastikan tidak ada unsur pelanggaran hukum dalam kasus ini.





