Bengkulu – Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan, S.E. meluncurkan dua produk unggulan Provinsi Bengkulu yang menjadi simbol kemandirian dan kebangkitan ekonomi rakyat, Minyak Goreng Bumi Merah Putih dan Kopi Bumi Merah Putih. Dua produk lokal ini diperkenalkan dalam dua momentum berbeda, namun membawa satu semangat yang sama, menjadikan Bengkulu mandiri, produktif, dan berdaulat secara ekonomi.
Peluncuran pertama berlangsung pada Selasa (27/5) dalam momen Gebyar SMK 2025 di SMKN 6 Kota Bengkulu, di mana Gubernur Helmi meresmikan Minyak Goreng Bumi Merah Putih, yang diklaim sebagai salah satu minyak goreng terbaik di dunia.
“Nanti kita bangun pabrik di sekolah ini, urus hak patennya. Pemasarannya akan dilakukan langsung oleh Gubernur Bengkulu. Tidak hanya di Sumatera, tapi juga ke Jawa dan dunia. Jangan ngaku Indonesia kalau belum pakai minyak goreng Bumi Merah Putih,” tegas Helmi dalam sambutannya.

Sebagai bentuk apresiasi atas inovasi ini, SMKN 6 Kota Bengkulu ditetapkan sebagai Juara 1 Sekolah Inovatif dan berhak atas hadiah sebesar Rp1 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan sekolah dan fasilitas produksi. Tak hanya minyak goreng, siswa dan guru SMK juga memamerkan inovasi lain seperti permen rasa kopi, saos sambal, saos tomat, sabun cair, sarden, sampo mobil, dan semir ban.
“Lulusan SMK adalah aset berharga bagi Provinsi Bengkulu. Mereka harus siap menjadi pelaku industri, bukan hanya pencari kerja,” tambah Gubernur Helmi.
Kopi Bumi Merah Putih, Dari Hutan ke Pasar Dunia
Hari ini, Rabu (28/5), Gubernur melanjutkan gebrakan ekonominya dengan meluncurkan Kopi Bumi Merah Putih di Kabupaten Rejang Lebong. Dalam sambutannya, Helmi menegaskan bahwa Bengkulu adalah salah satu penghasil kopi terbesar nasional, namun selama ini terlalu sering “mengalah” karena hasilnya diakui sebagai milik provinsi lain.
“Budidaya kopi kita berada di hutan. Tapi bukan berarti merusak. Justru kita sisipkan kopi dalam ekosistem hutan agar tetap lestari. Ini bentuk ekonomi hijau. Kita tanam kopi, hutan tetap tegak, rakyat sejahtera,” jelas Helmi.
Lebih dari 80.000 hektare lahan di Bengkulu kini telah masuk skema Perhutanan Sosial, di mana 80%-nya ditanami kopi. Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Pokja Kopi Bumi Merah Putih mengembangkan konsep agroforestri konservatif berbasis prinsip livelihood-sustainability nexus FAO, yang menjamin keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.
Dalam kegiatan ini, juga dilakukan pelatihan pascapanen kepada 100 peserta, analisis uji tanah dan air, serta penyiapan sewa pabrik kopi di Desa Taba Pasma, Bengkulu Tengah. Pemerintah menargetkan peningkatan mutu, kelembagaan petani, dan branding kopi khas Bengkulu hingga masuk ke pasar ekspor.
“Secangkir kopi bukan hanya minuman, tapi cerita perjuangan petani, keberlanjutan hutan, dan masa depan ekonomi rakyat,” ucap Kepala Dinas LHK Provinsi Bengkulu, Safnizar, S.Hut., M.P.





