Wali Kota Bengkulu Gulirkan Program Sekolah Nikah dan Pembinaan Anak Nakal di Masjid
Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, saat acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (4/9/25) (foto: Awang Konaevi/repoeblik.com)

Dedy Wahyudi Gagas Ujian Serentak SD-SMP, Bengkulu Siap Jadi Motor Inovasi Pendidikan Nasional

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

BengkuluWalikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, meluncurkan gagasan ujian serentak bagi siswa SD dan SMP se-Kota Bengkulu. Kebijakan ini dinilainya sebagai terobosan untuk menghidupkan kembali semangat kompetisi akademik pasca dihapusnya Ujian Nasional (UN) oleh pemerintah pusat pada 2021.

Menurut Dedy, sejak UN digantikan dengan Ujian Sekolah (US) yang sepenuhnya menjadi kewenangan masing-masing sekolah, standar mutu pendidikan cenderung melemah. Hampir semua siswa dinyatakan lulus, tetapi motivasi belajar menurun, sementara sekolah tidak lagi terpacu mencetak prestasi terbaik.

“Ujian serentak ini mirip EBTANAS, tapi dimodifikasi sesuai konteks Kota Bengkulu. Ini bukan hanya evaluasi akademik, melainkan instrumen kompetisi sehat yang mendorong siswa lebih giat belajar, dan sekolah lebih terpacu meningkatkan kualitas,” ujar Dedy, Sabtu (13/9/25).

Ia menegaskan, Kota Bengkulu ingin menjadi pionir inovasi pendidikan yang bisa menjadi model nasional. “Kota Bengkulu ingin menjadi bandul inovasi pendidikan secara nasional. Sistem ujian serentak dua tahap ini bisa menjadi contoh dan pilot project bagi pusat untuk mendesain ulang standarisasi pendidikan. Saya ingin perubahan besar ini dimulai dari Bengkulu,” tegasnya.

Tahap pertama ujian serentak dijadwalkan pada 15 September 2025, diikuti sekitar 500 siswa SD dan SMP. Tiga besar dari tiap sekolah kemudian akan mengikuti tahap kedua pada 30 September 2025. Para juara akan mendapat apresiasi berupa laptop, meski Dedy menekankan hadiah bukanlah inti dari kebijakan tersebut.

“Yang utama adalah semangat kompetisi. Siswa termotivasi, sekolah juga terpacu meningkatkan kualitas belajar mengajar,” tambahnya.

Gagasan ini dinilai relevan dengan kondisi global. Studi PISA (Programme for International Student Assessment) menempatkan kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia di kategori rendah. Rendahnya capaian itu salah satunya disebabkan hilangnya standar evaluasi yang baku.

Artinya, tanpa evaluasi serius dan terstruktur, masa depan generasi muda bisa terancam. Dengan terobosan ujian serentak, Bengkulu menunjukkan bahwa daerah bisa mengambil inisiatif, bukan sekadar menunggu regulasi pusat.

Gambar Gravatar
Wartawan berita daerah yang konsisten mengikuti perkembangan isu regional, kebijakan pemerintah setempat, serta berbagai peristiwa penting di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *