SD Mapia: Meski Bangunan Rapuh Tetap Kuat Dalam Pendidikan
SD Mapia: Meski Bangunan Rapuh Tetap Kuat Dalam Pendidikan

SD Mapia: Meski Bangunan Rapuh Tetap Kuat Dalam Pendidikan

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Kepulauan Mapia, Repoeblik – Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali bulan September tiba, warga Mapia selalu merasakan perubahan cuaca yang khas. Namun, tahun ini, Angin September terasa berbeda dari biasanya. Biasanya, memasuki bulan tua di penghujung tahun, hawa hujan nan lembab membuat kulit terasa lengket oleh saripati garam lautan Pasifik yang terangkat akibat terik matahari. Kadang kala, hujan deras bisa turun beberapa kali sehari meski dalam durasi singkat. Penghujung September ini menjadi waktu istimewa bagi anak-anak di SD Mapia.

Pada cuaca semacam ini, mereka tidak lagi was-was terguyur hujan saat belajar di kelas. Sebab, meski terlihat kokoh dari luar, bangunan SD Mapia sebenarnya telah rapuh. Atapnya pun sudah amburadul akibat lapuk. Dari dalam, langit-langit kelasnya pun sudah tidak lagi elok. Bisa dibayangkan, bila hujan turun, tetesan air akan menembus celah-celah genteng yang tidak lagi rapat. Ditambah lagi, ruangan itu tidak lagi dilengkapi pintu dan jendela, air hujan akan leluasa masuk dari berbagai arah.

Namun, berkat Angin September yang berbeda tahun ini, anak-anak SD Mapia dapat bernapas lega. Mereka tidak perlu lagi khawatir akan air hujan yang masuk ke dalam kelas. Selama beberapa tahun terakhir, mereka sering kali terpaksa belajar di bawah hujan yang turun melalui lubang-lubang di atap kelas mereka.

Meski dihadapkan pada kondisi yang sulit dan terbatas, tidak ada anak di Mapia yang menggunakan alasan tersebut untuk menghindari pendidikan. Mereka tetap mempertahankan semangat belajar yang tinggi, mengerti bahwa pendidikan adalah kunci untuk melarikan diri dari nasib yang sama seperti orang tua mereka yang bekerja sebagai nelayan atau petani kopra.

Hidup di atas bentala yang dikelilingi oleh Samudra Pasifik, anak-anak Mapia tidak memiliki banyak pilihan ketika datang ke akses informasi dan pendidikan. Satu-satunya institusi pendidikan yang mereka miliki adalah Sekolah Dasar yang berdiri di pusat pulau.

Situasi mulai berubah ketika para siswa SD Mapia mencapai kelas lima. Di tahun-tahun terakhir mereka di sekolah dasar, anak-anak remaja ini harus membuat keputusan penting apakah akan tetap tinggal di Mapia atau melanjutkan pendidikan di luar pulau.

Jarak yang memisahkan mereka dengan pulau-pulau besar seperti Biak mencapai ratusan kilometer, dan transportasi laut tersedia hanya dalam jadwal yang terbatas. Cendra Arius, Kepala Desa Kampung Mapia, menjelaskan bahwa jarak antara Mapia dan Biak sekitar 240 kilometer. Namun, kapal hanya berlayar sekitar dua minggu sekali, dan itu pun jika cuaca di lautan cukup bersahabat.

Menurut Cendra Arius, “Keputusan ini bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak Mapia. Mereka harus meninggalkan keluarga mereka dan berani menghadapi tantangan besar untuk melanjutkan pendidikan. Namun, mereka tahu bahwa ini adalah langkah penting dalam memperbaiki masa depan mereka.”

Setelah melakukan kunjungan ke Mapia, Menteri Sosial Tri Rismaharini mengumumkan bahwa ia telah berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk mengatasi kendala aksesibilitas yang dihadapi oleh masyarakat Mapia, sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik.

Kunjungan Menteri Risma ke Mapia memunculkan kesadaran akan tantangan besar yang dihadapi oleh anak-anak di pulau ini dalam mencari pendidikan yang lebih tinggi di luar pulau tersebut. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Risma mengatakan, “Saya telah berbicara dengan Menteri Perhubungan untuk mencari solusi terkait aksesibilitas bagi masyarakat Mapia. Kami akan bekerja keras untuk memastikan anak-anak di sini memiliki akses yang lebih baik ke pendidikan di masa depan.”

Selain itu, Menteri Risma juga menyampaikan pemahaman mendalam tentang pentingnya kehadiran orang tua dalam perkembangan anak-anak di usia muda. Ia mengakui bahwa anak-anak yang harus tinggal jauh dari kampung halaman mereka mungkin menghadapi tantangan dalam menjaga kesehatan mental mereka.

“Saya akan mencari jalan keluar untuk menjaga kesehatan mental anak-anak di Mapia yang harus tinggal jauh dari kampung halaman mereka. Saya akan berkomunikasi dengan psikolog dan ahli-ahli untuk mencari solusi yang sesuai. Selain itu, kami juga akan melihat apakah teknologi dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh, karena kami menyadari bahwa tidak semua orang tua di sini mampu membayar pendidikan di luar pulau,” ungkap Menteri Risma.

Kunjungan Menteri Risma ke Mapia telah menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat di pulau terpencil ini, terutama anak-anak yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi. Upaya yang dikoordinasikan dengan Menteri Perhubungan serta komitmen untuk menjaga kesehatan mental anak-anak menunjukkan bahwa pemerintah pusat peduli dan siap untuk mencari solusi yang sesuai demi masa depan mereka.

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *