Ibrahim Assuaibi juga menyoroti pentingnya kebijakan yang diambil oleh bank sentral dalam menjaga stabilitas mata uang. Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga dan bahkan menunjukkan kemungkinan tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat telah memberikan keyakinan kepada pelaku pasar, yang mendukung penguatan Rupiah Indonesia.
Kondisi ekonomi Malaysia telah menjadi faktor utama yang mempengaruhi penurunan nilai tukar ringgit Malaysia. Hal ini berbeda dengan Indonesia, yang telah berhasil menjaga stabilitas nilai tukar rupiahnya. Analis keuangan Ibrahim Assuaibi dari PT Laba Forexindo Berjangka mengungkapkan bahwa Malaysia saat ini tengah mengalami penurunan ekspor dan impor, yang secara langsung mempengaruhi ringgit Malaysia.
Menurut Ibrahim, ekspor dan impor memiliki peran penting dalam menentukan tingkat penggunaan ringgit di pasar internasional, terutama dalam perdagangan dengan negara-negara yang sepakat menggunakan mata uang lokal dalam transaksinya. “Di Malaysia, saat ini ada masalah utama terkait penurunan ekspor-impor. Meskipun ekspor minyak sawit (CPO) cukup baik, namun sektor lainnya mengalami penurunan yang signifikan,” ungkapnya.
Selain penurunan ekspor-impor, cadangan devisa Malaysia juga terus mengalami kemerosotan. Kondisi ini semakin memperburuk nilai tukar ringgit Malaysia. Sebaliknya, di Indonesia, Rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga.
Ibrahim menjelaskan, “Ringgit Malaysia mengalami penurunan karena Bank Sentral Malaysia (BNM) baru-baru ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3%. Sementara itu, sektor ekspor-impor Malaysia mengalami tekanan yang signifikan. Di samping itu, cadangan devisa Malaysia terus mengalami penurunan.”





