Dedy Wahyudi dan Ronny Tobing Resmi Dilantik Jadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bengkulu
Dedy Wahyudi dan Ronny Tobing Resmi Dilantik Jadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bengkulu / foto dok istimewa 20/2/25

HUT Kota Bengkulu, Dedy–Ronny Sudah Menggerakkan Kota Kini Saatnya Membuktikan Isinya

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Oleh: Okta

SETIAP PERINGATAN HUT KOTA BENGKULU, kita biasanya sibuk merayakan usia. Panggung dibuat, ucapan bertebaran, baliho dipasang, pidato dilantangkan. Kota seolah tampak bahagia.

Alaku

Tapi kota, seperti rakyatnya, tidak hidup dari seremoni.

Ia hidup dari jalan yang tidak rusak. Dari drainase yang tidak mampet. Dari pasar yang tidak semrawut. Dari ruang publik yang tidak cuma ramai saat dibuka, lalu kusam beberapa bulan kemudian.

Karena itu, HUT Kota Bengkulu kali ini mestinya bukan cuma soal merayakan. Ini momen yang pas untuk bertanya dengan jujur, Dedy–Ronny sedang membangun Bengkulu, atau sekadar mempercantik wajahnya?

Harus diakui, dalam setahun belakangan, ada gerak yang terasa.

Kota ini tidak lagi terlalu murung seperti dulu. Ada titik yang hidup. Ada kawasan yang mulai ditata. Ada ruang yang dulu biasa saja, sekarang ramai dibicarakan. Belungguk Point jadi contoh paling gampang. Tempat itu berhasil jadi magnet baru. Orang datang, nongkrong, foto-foto, pedagang ikut bergerak.

Secara politik, ini cerdas.

Dedy–Ronny paham satu hal yang sering gagal dipahami kepala daerah, yaitu rakyat butuh bukti yang bisa dilihat, bukan janji yang cuma enak didengar.

Maka yang dibangun duluan adalah yang kasat mata. Yang bisa bikin orang bilang, oh iya, ada perubahan.

Dan memang ada.

Barukoto II mulai diarahkan hidup. Jalan-jalan dibenahi. Kawasan padat seperti Pasar Minggu, Pasar Panorama dan KZ Abidin disentuh. Ada upaya agar Bengkulu tak terus-terusan identik dengan semrawut yang dianggap biasa.

Sampai di sini, Dedy–Ronny layak mendapat apresiasi tinggi.

Tapi masalahnya, kota tidak bisa terus hidup dari kesan awal.

Kota ini tidak butuh pemimpin yang cuma pandai bikin titik viral. Kota ini butuh pemimpin yang tahan godaan pencitraan.

Sebab sejarah kepala daerah di Bengkulu tidak akan ditulis dari seberapa ramai lokasi peresmian. Sejarah akan ditulis dari hal yang lebih sederhana, apakah warga benar-benar merasakan hidupnya lebih baik, atau cuma merasa kotanya lebih enak dipandang?

Nah, di sinilah ujian sesungguhnya.

Jangan sampai Bengkulu hanya cantik di tengah, tapi kusut di pinggir.

Pusat kota rapi, lampu terang, spot foto bertambah. Tapi di lingkungan warga, persoalan lama masih nongkrong santai. Sampah, drainase, genangan, parkir liar, jalan lingkungan, hingga pelayanan yang kadang masih bikin orang mengelus dada.

Kalau itu yang terjadi, maka semua pujian hari ini bisa cepat berubah jadi sindiran.

Karena masyarakat sekarang tidak gampang silau.

Mereka tahu bedanya kota yang dibangun dengan kota yang dipoles.

Begitu juga dengan penertiban.

Kalau pemerintah mau bicara soal aturan, ya tegakkan sekalian. Jangan galak ke yang kecil, lalu sopan sekali ke yang besar. Jangan keras ke lapak pinggir jalan, tapi pura-pura rabun kalau pelanggaran datang dari bangunan yang punya nama.

Rakyat paling cepat mencium ketidakadilan.

Dan sekali publik merasa ada tebang pilih, semua narasi soal ketegasan akan ambruk seketika.

Belungguk Point pun begitu.

Hari ini ia dibanggakan. Besok, ia bisa jadi bahan ejekan kalau tak dijaga. Ruang publik itu bukan cuma urusan gunting pita. Setelah diresmikan, tantangannya justru baru dimulai. Dari kebersihan, parkir, pedagang, fasilitas rusak, dan penyakit klasik proyek pemerintah, ramai di awal, redup di tengah jalan.

Namun di titik inilah kita juga harus jujur melihat satu hal: menjaga kota bukan hanya PR pemimpin, tapi juga PR masyarakat.

Pemerintah bisa membangun, menata, dan mempercantik wajah kota. Tapi kalau masyarakat masih gemar membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas umum, parkir seenaknya, atau tidak ikut merawat ruang yang sudah dibenahi, maka perubahan itu tidak akan bertahan lama.

Artinya, keberhasilan sebuah kota tidak bisa hanya dibebankan ke pundak wali kota dan wakil wali kota. Ada tanggung jawab bersama di sana. Kota yang baik lahir dari pemimpin yang mau bekerja, dan warga yang mau menjaga.

Maka di momen HUT Kota Bengkulu ini, pujian boleh diberikan. Tapi jangan kebanyakan. Kota ini memang sedang bergerak. Itu benar.

Namun bergerak belum tentu sampai.

Dedy–Ronny sudah berhasil membuat orang melihat Bengkulu dengan cara yang sedikit berbeda. Itu modal. Tapi modal bukan hasil akhir.

Sekarang yang ditunggu bukan lagi tampilan. Yang ditunggu adalah isi.

Apakah perubahan ini tahan lama?

Apakah ekonomi warga ikut bergerak?

Apakah UMKM benar-benar tumbuh, bukan cuma dipajang?

Apakah jalan yang mulus bertahan setelah hujan pertama?

Apakah kawasan yang ditata tetap tertib setelah kamera media pergi?

Dan yang tak kalah penting, apakah masyarakat juga ikut merasa memiliki kota ini, lalu menjaga apa yang sudah dibangun?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab di panggung HUT.

Ia cuma bisa dijawab oleh waktu.

Dan seperti biasa, waktu jauh lebih jujur daripada pidato.

Terlepas dari segala kritik dan catatan yang ada, penulis tetap menaruh harapan besar kepada kepemimpinan Dedy Wahyudi dan Ronny PL Tobing. Sebab, setidaknya hingga saat ini, keduanya sudah memperlihatkan niat yang jelas untuk membawa Kota Bengkulu keluar dari kesan lambat, biasa-biasa saja, dan kurang percaya diri.

Dedy–Ronny memberi kesan bahwa Bengkulu harus bergerak, harus ditata, dan harus punya wajah baru yang membanggakan warganya. Itu bukan hal kecil, dan patut diapresiasi.

Tentu masih banyak PR yang menanti. Namun selama semangat membangun itu tetap dijaga, selama keberanian menata diiringi keadilan, selama kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas utama, dan selama warga juga ikut menjaga hasil pembangunan, penulis yakin kepemimpinan Dedy–Ronny masih layak diberi harapan besar.

Bengkulu butuh pemimpin yang mau bekerja. Dan sejauh ini, kesan itu terlihat pada Dedy–Ronny.

Selamat Ulang Tahun ke 307 Bengkulu ku.

Penulis adalah wartawan di Kota Bengkulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *