Hanura Usul Sistem Pemilu 2029 Kombinasi, Kader Partai Didorong Lebih Berperan

Jakarta – Partai Hanura mendorong perubahan sistem pemilu legislatif 2029 dengan menggabungkan mekanisme proporsional terbuka dan tertutup. Usulan tersebut dinilai dapat memberi ruang lebih besar kepada partai dalam menentukan calon berkualitas, tanpa menghilangkan kesempatan caleg memperoleh kursi berdasarkan suara pemilih.
Wakil Ketua Umum Hanura Patrice Rio Capella mengatakan perubahan sistem diperlukan untuk mendorong peningkatan kualitas anggota DPR maupun DPRD pada Pemilu 2029. Menurutnya, sistem pemilu seharusnya ikut berkembang dari satu periode ke periode berikutnya.
“Pemilu itu seharusnya setiap masanya meningkatkan kualitas dari isi pemilu itu sendiri. Kita berharap Pemilu 2029 ini kualitas DPR, DPRD tingkat 1, tingkat 2 juga mulai meningkat,” kata Rio Capella, dilansir detikSumut, Selasa (11/8/2026) malam.
Hanura menilai sistem proporsional terbuka yang berlaku saat ini memiliki persoalan karena kompetisi antarkandidat sangat bergantung pada perolehan suara langsung. Rio bahkan mengibaratkan mekanisme tersebut seperti “pasar bebas” yang membuat kekuatan modal berpotensi menentukan persaingan.
Menurut dia, kondisi itu dapat membuat kader yang selama ini aktif membangun organisasi partai justru kalah bersaing dengan kandidat yang memiliki modal lebih besar.
“Orang yang bagus, aktivis di partai mungkin bagus, hanya kalah pada modal atau kapital. Sehingga tersingkir dan dimenangkan oleh orang yang tidak mengikuti proses berpartai,” ujarnya.
Karena itu, Hanura mengusulkan model kombinasi atau setengah terbuka. Dalam skema yang ditawarkan, partai tetap memiliki kewenangan menentukan calon berdasarkan nomor urut, sementara perolehan suara tetap digunakan untuk menentukan kursi berikutnya.
Rio memberikan gambaran, apabila sebuah partai memperoleh dua kursi di satu daerah pemilihan, kursi pertama diberikan kepada caleg nomor urut satu yang ditetapkan partai. Sementara kursi kedua diberikan kepada caleg dengan perolehan suara terbanyak.
“Berikan kesempatan kepada partai politik untuk mengedepankan calon-calon yang berkualitas dari partainya, tanpa menutup peluang orang berjuang mendapatkan kursi tambahan dengan urutan suara terbanyak,” katanya.
Dengan model tersebut, apabila partai hanya mendapatkan satu kursi, kursi tersebut diberikan kepada caleg nomor urut satu. Namun jika memperoleh lebih dari satu kursi, kandidat lain tetap memiliki kesempatan merebut kursi berdasarkan dukungan suara.
Hanura menilai sistem kombinasi itu sekaligus dapat mendorong kader untuk membangun partai sebelum maju sebagai calon legislatif. Partai berharap mekanisme tersebut dapat mengurangi kecenderungan seseorang berpindah-pindah partai hanya karena memiliki modal besar.
“Sehingga ada penghargaan dan membudayakan agar orang itu menjadi caleg dengan cara membesarkan partainya dulu,” ujar Rio.
Usulan perubahan sistem tersebut kini menjadi bagian dari gagasan Hanura menghadapi pembahasan desain Pemilu 2029. Partai itu berharap mekanisme yang diterapkan nantinya mampu menjaga peran organisasi politik sekaligus mempertahankan ruang bagi pemilih untuk menentukan kandidat berdasarkan rekam dukungan suara.







