Rudal Fattah-2 Iran Diklaim Tembus Iron Dome Saat Serang Israel
Rudal Fattah-2 Iran Diklaim Tembus Iron Dome Saat Serang Israel (foto:wikipedia)

Rudal Fattah-2 Iran Diklaim Tembus Iron Dome Saat Serang Israel

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Teheran – Rudal Fattah-2 Iran kembali menjadi sorotan setelah Teheran mengklaim menggunakannya dalam gelombang serangan bertajuk Operation True Promise 4 pada Maret 2026. Senjata hipersonik tersebut disebut mampu menembus sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, Arrow, hingga Patriot.

Dilansir dari Sunday Guardian dan dikutip detikcom, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) merilis video peluncuran rudal tersebut sebagai bagian dari serangan balasan terhadap Israel dan basis militer Amerika Serikat di kawasan. Teheran mengklaim sejumlah rudal berhasil melewati lapisan pertahanan udara dan menghantam target di wilayah Israel tengah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan rudal melaju dengan kecepatan tinggi sambil menghindari interceptor sebelum mencapai sasaran. Jika klaim tersebut benar, maka ini menjadi penggunaan operasional pertama rudal Fattah-2 Iran dalam konflik terbuka.

Rudal Fattah-2 diperkenalkan secara resmi pada November 2023 sebagai pengembangan dari Fattah-1. Dalam bahasa Persia, Fattah berarti “Pemenang”. Rudal ini dikategorikan sebagai Hypersonic Glide Vehicle (HGV), yakni rudal balistik dengan hulu ledak yang dapat meluncur dan bermanuver di atmosfer menuju target.

Berdasarkan klaim Iran dan analisis militer internasional, rudal Fattah-2 Iran memiliki kecepatan maksimal Mach 13 hingga Mach 15 atau sekitar 16.000–18.500 kilometer per jam. Jangkauannya disebut mencapai 1.400–1.500 kilometer, cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Israel dari Iran bagian barat serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Rudal ini menggunakan kombinasi bahan bakar padat pada tahap pendorong dan bahan bakar cair pada kendaraan luncur. Muatan peledaknya diperkirakan berkisar 200–500 kilogram high explosive. Peluncurannya menggunakan kendaraan TEL (Transporter Erector Launcher) yang dapat dipindahkan sehingga sulit dilacak sebelum ditembakkan.

Iran juga mengklaim rudal tersebut dilengkapi kemampuan radar jamming, manuver terminal tinggi, serta perubahan lintasan pada fase akhir penerbangan. Material komposit tahan panas dikatakan mampu menahan suhu lebih dari 2.000 derajat Celsius saat melaju dalam kecepatan hipersonik.

Kecepatan ekstrem dan kemampuan bermanuver menjadi tantangan utama bagi sistem pertahanan udara seperti Iron Dome. Sistem tersebut pada dasarnya dirancang untuk mencegat roket jarak pendek dengan lintasan relatif mudah diprediksi. Dengan kecepatan hingga Mach 15, waktu reaksi radar dan interceptor menjadi sangat terbatas.

Selain itu, kemampuan manuver horizontal dan vertikal pada fase luncur membuat prediksi lintasan akhir menjadi lebih sulit. Iran juga dilaporkan mengombinasikan peluncuran rudal dengan ratusan drone Shahed serta rudal lain seperti Kheibar Shekan dalam pola serangan saturasi yang dapat membebani sistem pertahanan udara.

Sejumlah analis militer dari berbagai lembaga, termasuk Military Watch Magazine dan Jane’s, menilai teknologi hipersonik seperti rudal Fattah-2 Iran berpotensi mengubah kalkulasi pertahanan udara di kawasan Timur Tengah.

Gambar Gravatar
Wartawan yang menaruh perhatian pada berita daerah dan nasional, perkembangan lokal, dengan fokus pada penyajian informasi yang faktual, terverifikasi, dan dekat dengan kebutuhan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *