Bengkulu – Upaya menekan beban sampah sekaligus membuka sumber penghasilan baru bagi warga mulai diarahkan Pemerintah Kota Bengkulu melalui skema pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular di tingkat kelurahan. Strategi ini disiapkan untuk menjawab persoalan penumpukan sampah organik di TPA Air Sebakul yang selama ini menjadi tantangan utama kota.
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyatakan minatnya menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Bina Hijau Mandiri guna menerapkan program budidaya maggot dan ikan lele secara merata di setiap kelurahan. Skema tersebut memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai bahan baku utama pakan maggot, yang kemudian digunakan sebagai sumber protein bagi budidaya lele.
Melalui program ini, setiap rumah tangga sasaran direncanakan memperoleh fasilitas berupa bioplog berdiameter dua meter sebagai media pemeliharaan. Selain itu, disiapkan sekitar 1.000 ekor benih lele berikut peralatan pendukung, seperti aerator dan sistem pakan mandiri yang mengandalkan maggot hasil pengolahan sampah organik rumah tangga.
Pemanfaatan maggot dinilai mampu memangkas biaya produksi secara signifikan karena warga tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan. “Kita benar-benar menggunakan biaya minim karena pakan lele berasal dari sampah yang diolah menjadi Maggot hanya dalam waktu tiga minggu,” ujar Pemateri Bina Usaha Mandiri.
Secara teknis, satu bioplog diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 250 kilogram ikan lele dalam waktu 2,5 bulan. Untuk memaksimalkan nilai ekonomi, masyarakat diberikan sejumlah opsi pengolahan lanjutan, mulai dari penjualan lele segar dengan harga Rp20.000 per kilogram berpotensi pendapatan Rp5.000.000, produksi abon lele sebanyak 25–35 kilogram, hingga pengolahan nugget lele yang dapat mencapai 200 kilogram dengan potensi pendapatan Rp8.000.000.
Alternatif lainnya adalah produksi ikan fillet dengan harga jual Rp100.000 per kilogram dan potensi pendapatan hingga Rp8.800.000. Selain memberi manfaat ekonomi langsung bagi keluarga, setiap rumah produksi kelurahan diperkirakan mampu menyerap sekitar 12 tenaga kerja, mencakup petugas pengangkut sampah hingga pengolah hasil perikanan.
Sebagai penguat komitmen pelaksanaan, Pemerintah Kota Bengkulu menyiapkan skema apresiasi bagi aparatur wilayah. Dedy Wahyudi menegaskan evaluasi menyeluruh akan dilakukan pada akhir 2026 untuk menilai keberhasilan program di masing-masing kelurahan. “Lurah yang paling rajin dan sukses menjalankan program ini akan diberikan hadiah ibadah Umrah,” tegasnya yang disambut antusias peserta.
Selain penghargaan tersebut, lurah berprestasi juga dijanjikan peluang kenaikan jabatan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Perikanan untuk penyediaan benih, Dinas Lingkungan Hidup dalam pengelolaan sampah, serta Dinas Kesehatan. Pemerintah Kota Bengkulu berharap perputaran ekonomi di tingkat kelurahan dari program ini turut berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah.





