Meskipun sebagian kecil asap berasal dari Lampung, kontribusi terbesar terhadap kabut asap di wilayah Palembang tetap berasal dari Ogan Komering Ilir (OKI) sendiri.
Iqbal juga memberikan informasi terbaru mengenai hotspot atau titik api yang menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. “Untuk hari ini, tercatat ada 947 hotspot di seluruh Sumsel, dan daerah dengan jumlah hotspot terbanyak ada di OKI sebanyak 529 titik.” Iqbal melanjutkan dengan menjelaskan data secara lebih rinci, “Total keseluruhan hotspot yang terjadi sejak Januari hingga Oktober mencapai 14.265 titik. OKI merupakan daerah dengan jumlah hotspot terbanyak sebanyak 6.508 titik, sedangkan daerah terbesar kedua adalah Banyuasin dengan 1.509 hotspot. Sementara itu, Ogan Ilir justru berhasil mengendalikan jumlah hotspotnya, yang mencapai 639 titik.”
Upaya keras Pemprov Sumsel dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus berlanjut. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengumumkan perpanjangan penggunaan teknik modifikasi cuaca (TMC) sebagai bagian dari strategi untuk memadamkan api yang merusak. TMC yang telah diperpanjang akan berlangsung mulai hari ini, 18 hingga 22 Oktober 2023.
Keputusan perpanjangan ini didasarkan pada prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan potensi awan hujan yang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 19 hingga 22 Oktober 2023.
Iqbal menjelaskan, “Prediksi BMKG menunjukkan adanya potensi awan hujan pada tanggal 19-22 Oktober. Untuk penanganan karhutla, kami melibatkan satgas dari darat dan udara, serta terus melakukan sosialisasi bersama TNI-Polri, yang melibatkan juga aspek global dalam upaya ini. Penanganan ini dilaksanakan secara maksimal oleh BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, dan satgas kabupaten. Teknik water bombing tetap menjadi bagian dari strategi yang kami gunakan.”





