Bengkulu – Aroma kopi ikut mewarnai perbincangan serius dalam Lokakarya Sinergi Multipihak yang digelar di Hotel Two K Azanah, Kamis (11/9/25). Bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 80 persen lahan perhutanan sosial di Bengkulu ditanami kopi oleh masyarakat desa.
Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, R.A. Denny, yang hadir mewakili Gubernur Helmi Hasan, menyebut kopi sebagai simbol harapan.
“Di banyak dusun, kopi bukan hanya minuman. Ia adalah sumber kehidupan, bahkan jadi uang tunai harian ketika biji kopi dijual di pinggir jalan. Tugas kita memastikan nilai kopi ini naik tanpa merusak hutan,” katanya.
Bengkulu sendiri tercatat sebagai salah satu lumbung kopi nasional. Berdasarkan data tahun 2023, produksi kopi provinsi ini mencapai sekitar 90 ribu ton per tahun, atau berkontribusi 7,72 persen dari total produksi nasional. Namun, sebagian besar hasilnya masih keluar daerah dan kehilangan identitas asal.
Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto, menilai kopi Bengkulu bisa menjadi pintu masuk menuju kesejahteraan desa.
“Menjaga hutan tidak berarti mengurangi penghasilan. Justru dengan pengelolaan yang lestari, kopi Bengkulu bisa masuk pasar global dengan harga lebih baik,” ujarnya.
Lokakarya ini mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, hingga kelompok tani. Mereka membahas bagaimana izin perhutanan sosial yang sudah ada bisa benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Kepala DLHK Bengkulu, Safnizar, menyebut bahwa kunci keberhasilan terletak pada sinergi.
“Kalau hutan lestari, kopi tumbuh subur, dan masyarakat sejahtera. Itu tujuan yang ingin kita wujudkan bersama,” jelasnya.





