Bengkulu – Ketegangan yang sempat membayangi hubungan Pemerintah Kota Bengkulu dengan para pengemudi truk sampah TPA Sebakul akhirnya mencair. Dalam waktu singkat, konflik yang sebelumnya memanas dan bahkan berujung pada aksi pembuangan sampah di halaman Kantor Wali Kota serta DPRD, ditutup dengan dialog terbuka dan jabat tangan sebagai simbol rekonsiliasi.
Pertemuan yang digelar di Balai Kota Merah Putih pada Minggu (1/2/2026) menjadi titik balik suasana. Gedung yang biasanya identik dengan agenda formal pemerintahan itu berubah menjadi ruang percakapan hangat, dipenuhi tawa para supir pengangkut sampah yang beberapa hari sebelumnya berada dalam situasi penuh emosi.
Forum tersebut dihadiri Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi, Ketua DPRD Kota Bengkulu Herimanto bersama sejumlah anggota dewan, Penjabat Sekretaris Daerah Medy Pebriansyah, para asisten, staf ahli, kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Bengkulu, serta para driver pengangkut sampah.
Dalam penyampaiannya, Dedy mengakui bahwa pemerintah tidak lepas dari kekurangan dalam memberikan pelayanan publik. Menurutnya, setiap kekhilafan harus dijadikan bahan evaluasi agar kinerja pemerintah ke depan semakin baik.
“Tidak ada manusia yang sempurna. Pemerintah juga tentu ada khilaf. Namun kami terus bekerja dengan sekuat tenaga,” ujar Dedy.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut sengaja dibuka sebagai ruang dialog agar persoalan yang telah terjadi tidak berlarut dan justru menjadi pijakan perbaikan bersama. Fokus utama pemerintah, kata dia, adalah memastikan Kota Bengkulu semakin bersih dan tertata.
“Kami mengundang para driver sampah untuk duduk bersama. Yang sudah-sudah kita jadikan evaluasi, dan ke depan kita terus berbenah. Kota ini harus bersih dan tertata, dan semuanya sudah berada di jalur yang benar,” katanya.
Di hadapan para driver, Dedy juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat jika selama ini pelayanan pemerintah dirasakan belum maksimal.
“Sebagai walikota, saya dengan legowo meminta maaf jika masih ada pelayanan yang belum maksimal. Saya berjanji akan terus berbenah dalam membangun Kota Bengkulu,” ucapnya.
Selain soal pelayanan, Dedy meluruskan isu hukum yang sempat memicu kegaduhan. Ia menegaskan tidak pernah ada niat sedikit pun untuk mengkriminalisasi warga, serta memastikan laporan hukum yang sempat dibuat telah dicabut oleh tim hukum Pemerintah Kota Bengkulu.
“Tidak ada sedikit pun niat saya untuk mengkriminalisasi warga. Mereka adalah warga saya, tidak mungkin saya korbankan. Saya bekerja sepenuhnya untuk masyarakat,” tegas Dedy.
Ia menjelaskan, pelaporan tersebut dilakukan saat dirinya berada di luar Bengkulu dan merupakan inisiatif tim hukum dengan pertimbangan menjaga marwah pemerintah daerah. Namun sejak awal, ia telah menyatakan keinginan untuk mencabut laporan tersebut.
“Tim hukum berpikir itu bagian dari menjaga marwah pemerintah, tapi memang niat saya sejak awal adalah mencabut tuntutan itu,” pungkasnya.
Dari pihak driver, suasana dialog disambut dengan rasa lega. Dedi, ketua rombongan supir pengangkut sampah, mengakui bahwa peristiwa emosional yang terjadi sebelumnya justru membuka ruang komunikasi yang selama ini tidak pernah ada.
“Ada hikmahnya. Kalau tidak ada kejadian kemarin, mungkin kami belum tentu bisa duduk dan makan bersama di Gedung Merah Putih ini,” ungkap Dedi penuh haru.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga melahirkan komitmen baru. Para supir secara terbuka menyatakan dukungan terhadap penyegaran struktur organisasi di Dinas Lingkungan Hidup yang baru saja dilakukan.
Dengan berakhirnya konflik, tidak ada lagi sekat antara pihak yang merasa benar atau salah. Pemerintah kota menyatakan komitmennya untuk terus memperhatikan akses jalan menuju TPA Sebakul yang selama ini menjadi pemicu utama protes, sekaligus memastikan kesejahteraan para pengangkut sampah sebagai garda terdepan kebersihan kota tetap terjaga.





