Bengkulu Tengah – Kepala Puskesmas Kembang Seri, Susyanti, membantah tudingan penolakan pasien dalam kasus dugaan keracunan siswa yang mencuat beberapa hari terakhir. Ia menegaskan tidak ada penolakan pelayanan, dan menyebut persoalan terjadi akibat miskomunikasi di lapangan.
Penjelasan itu disampaikan menyusul sorotan DPRD Bengkulu Tengah yang sebelumnya melakukan inspeksi mendadak terkait laporan penolakan pasien dengan gejala keracunan usai mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Secara umum, kami tidak pernah dan tidak akan menolak pasien dalam kondisi apapun. Kemungkinan yang terjadi adalah miskomunikasi antara petugas IGD dan pengantar pasien,” ujar Susyanti, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, setelah isu tersebut mencuat, pihaknya langsung melakukan penelusuran internal dengan meminta klarifikasi kepada dua petugas IGD yang bertugas saat kejadian.
Menurut hasil konfirmasi, tidak ditemukan adanya pasien yang datang dengan keluhan mual, nyeri perut, atau indikasi keracunan pada waktu yang dimaksud.
“Petugas menyampaikan tidak ada pasien dengan keluhan tersebut yang datang. Jika ada, pasti tercatat di buku registrasi dan langsung ditangani,” katanya.
Susyanti menegaskan, sesuai standar operasional prosedur (SOP), seluruh fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, wajib memberikan pelayanan kepada setiap pasien tanpa terkecuali.
“Penolakan pasien adalah pelanggaran serius. Aturannya jelas, pasien harus dilayani terlebih dahulu, baru kemudian diurus administrasi atau rujukan jika diperlukan,” tegasnya.
Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan komunikasi di lapangan yang menimbulkan persepsi penolakan. Karena itu, investigasi tetap dilanjutkan untuk memastikan fakta yang sebenarnya.
“Kami tetap menindaklanjuti informasi yang ada dan akan memperbaiki sistem komunikasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Sebelumnya, DPRD Bengkulu Tengah menyoroti dugaan penolakan pasien setelah seorang siswa yang mengalami gejala keracunan tidak mendapatkan penanganan di Puskesmas Kembang Seri dan akhirnya dirujuk ke Klinik Rizky Medika.
Ketua Komisi III DPRD Bengkulu Tengah Arsyad Hamzah menyebut kasus tersebut sangat memprihatinkan dan harus dievaluasi secara menyeluruh.
“Kami tidak bisa membiarkan ini terjadi. Pasien dalam kondisi serius seharusnya ditangani,” katanya.
DPRD juga menjadwalkan pemanggilan pihak terkait pada Senin (27/4/2026) guna mengklarifikasi kasus sekaligus memastikan perbaikan pelayanan kesehatan.
Kasus ini beriringan dengan dugaan keracunan sejumlah siswa di Bengkulu Tengah yang masih dalam proses investigasi, termasuk penghentian sementara operasional dapur SPPG Kembang Seri 1 oleh Badan Gizi Nasional.





