Menurut Sarjono, ketakutan telah merasuki warga sejak makam tersebut ditempatkan di halaman surau. Anak-anak yang biasa riang bermain kini merasa cemas dan takut. Warga pendatang yang tinggal di sekitar surau juga merasa tidak nyaman, terutama saat malam tiba. Keberadaan makam di dalam area surau telah mengganggu ketenangan dan keamanan lingkungan mereka.
Menyikapi permasalahan ini, puluhan warga telah menyurati pihak pengelola surau serta melaporkan masalah ini ke kelurahan setempat. Mereka berharap agar keberadaan makam ini dapat segera diatasi, sehingga kehidupan sehari-hari mereka bisa kembali normal dan tenteram.
Ketua RW 08 Kelurahan Pagar Dewa, Zakari, juga ikut memberikan komentarnya terkait situasi ini. Ia mengungkapkan bahwa surau tersebut telah berdiri selama 10 tahun, dan sejak kehadiran makam ini, banyak warga yang merasa terganggu. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari warga yang menyebutkan bahwa pada saat penggalian makam, ketua RT turut serta dalam proses tersebut.
Permasalahan keberadaan makam di dalam area surau di Kelurahan Pagar Dewa, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, semakin memanas. Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Pagar Dewa, Zakari, memberikan beberapa penjelasan terkait kontroversi tersebut.
Surau yang menjadi pusat perdebatan telah berdiri selama 10 tahun di lingkungan tersebut. Zakari mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari sejumlah warga yang menyebutkan bahwa pada saat penggalian makam, ketua RT setempat sempat ikut serta dalam proses tersebut.





