Lebong – Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan muntahan korban keracunan massal di Kabupaten Lebong telah keluar. Ditemukan adanya bakteri yang diduga menjadi penyebab ratusan murid dan guru keracunan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Rachman, membenarkan temuan tersebut. Dari hasil pengujian, bakteri terdeteksi pada sampel makanan yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Lebong Sakti.
“Hasil sampel makanan sudah keluar, terkontaminasi. Kuman terdeteksi pada sampel bakso,” ujar Rachman melalui sambungan telepon, Selasa (2/9/25).
Ia menegaskan, kewenangan Dinkes hanya sebatas memastikan seluruh pasien keracunan dalam kondisi sehat. Sementara dugaan kelalaian penyedia dapur MBG menjadi ranah aparat penegak hukum (APH).
“Kalau pemeriksaan itu kewenangan APH. Fokus kami menjaga kesehatan para konsumen,” tegasnya.
Rachman menyebut, sampel yang diuji meliputi menu tahu, bakso, mie, sayur, jeruk, dan nasi. “Hasil sudah keluar dan telah disampaikan ke pihak Lebong,” tambahnya.
Sebelumnya, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan kasus ini tidak bisa dianggap sepele. Ia menyoroti jumlah korban yang mencapai ratusan pelajar di Lebong.
“Kita tunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang,” ujar Helmi usai menghadiri HUT PAN ke-27, Sabtu (30/8).
Berdasarkan data terakhir yang diterima redaksi Rakyat Daerah pada 28 Agustus 2025 pukul 12.30 WIB, sebanyak 446 pelajar tingkat SD, SMP, dan MTs menjalani perawatan medis setelah menyantap makanan MBG. Mereka dirawat di RSUD, puskesmas, hingga praktik mandiri.
Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Mardiyono bersama rombongan turut meninjau lokasi SPPG Kecamatan Lebong Sakti, Kamis (28/8). Lokasi tersebut langsung disegel dengan garis polisi, sementara kepala dapur diamankan.
Kapolda menegaskan pihaknya serius mengusut dugaan keracunan massal yang bersumber dari dapur MBG di Lebong Sakti.
“Investigasi masih berjalan, mulai dari dapur hingga penyaluran makanan. Hasil lab BPOM Bengkulu masih kita tunggu,” kata Mardiyono.
Ia menambahkan, Polres Lebong sudah mulai memeriksa sejumlah saksi. “Namun hasil penyelidikan lengkapnya belum kita terima,” tutupnya.





