RSHD Kota Bengkulu Genjot Pembenahan, Optimistis Pertahankan Akreditasi Paripurna

Bengkulu – Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu mempercepat pembenahan di seluruh lini pelayanan menjelang survei akreditasi yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Meski dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran, rumah sakit milik Pemerintah Kota Bengkulu itu optimistis mampu mempertahankan status Akreditasi Paripurna, predikat tertinggi dalam penilaian mutu pelayanan rumah sakit.
Direktur RSHD Kota Bengkulu, dr. Lista Cherlyviera, mengatakan persiapan dilakukan secara menyeluruh dengan memfokuskan peningkatan mutu pelayanan, penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta penyempurnaan sarana dan prasarana penunjang agar seluruh standar akreditasi dapat dipenuhi.
Menurutnya, mempertahankan predikat Akreditasi Paripurna memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan saat pertama kali meraihnya. Selain menjaga kualitas layanan secara konsisten, rumah sakit juga harus mampu beradaptasi dengan berbagai kebijakan baru, termasuk efisiensi belanja pemerintah.
“Mempertahankan kualitas jauh lebih sulit daripada meraihnya. Namun kami optimistis seluruh jajaran RSHD memiliki komitmen yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sekaligus mempertahankan Akreditasi Paripurna,” ujar dr. Lista Cherlyviera, Senin (29/6).
Sebagai bagian dari persiapan, RSHD akan menghadirkan surveior dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) pada bulan depan. Tim independen tersebut akan melakukan simulasi sekaligus evaluasi terhadap seluruh unit pelayanan untuk mengukur tingkat kesiapan rumah sakit sebelum survei akreditasi resmi dilaksanakan.
Hasil evaluasi dari surveior KARS akan menjadi bahan perbaikan bagi manajemen RSHD dalam menyempurnakan berbagai aspek yang masih memerlukan pembenahan sehingga seluruh standar akreditasi dapat dipenuhi secara optimal.
“Kami ingin mengetahui secara objektif bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Masukan dari surveior akan menjadi bahan evaluasi agar saat penilaian resmi berlangsung seluruh standar telah terpenuhi secara optimal,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Lista menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar mempertahankan predikat, tetapi menjadi tolok ukur penerapan standar keselamatan pasien, tata kelola rumah sakit yang baik, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Yang paling penting adalah masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, cepat, berkualitas, dan sesuai standar. Akreditasi menjadi salah satu indikator bahwa komitmen tersebut benar-benar dijalankan,” tegasnya. (ADV)






