Relawan WNI Ungkap Dugaan Pelecehan Saat Ditahan Israel dalam Misi Gaza
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya kembali ke Tanah Air usai ditahan militer Israel saat pelayaran menuju Gaza, Palestina. Dalam kesaksian mereka setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026) (foto dok indonesiabuzzcom)

Relawan WNI Ungkap Dugaan Pelecehan Saat Ditahan Israel dalam Misi Gaza

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Jakarta – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya kembali ke Tanah Air usai ditahan militer Israel saat pelayaran menuju Gaza, Palestina. Dalam kesaksian mereka setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026), para relawan mengungkap dugaan kekerasan fisik hingga pelecehan seksual selama proses penahanan.

Seperti diberitakan Detik.com, salah satu relawan, Herman Budianto Sudarsono, mengatakan sejumlah relawan mengalami cedera serius selama berada dalam tahanan. Ia menyebut ada korban yang mengalami patah tulang hingga luka akibat tindakan kekerasan aparat Israel.

“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah, patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak,” ujar Herman.

Herman juga mengungkap adanya dugaan pelecehan seksual yang dialami relawan laki-laki maupun perempuan selama proses penahanan berlangsung. Menurutnya, para tahanan diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” katanya.

Ia menambahkan pengalaman tersebut tidak membuat dirinya merasa paling berjasa untuk Palestina. Herman menilai penderitaan warga Gaza jauh lebih berat dibanding yang dialami para relawan internasional.

“Yang kami lakukan sangat kecil sekali untuk Palestina, karena saudara kita di Palestina jauh lebih menderita,” ucapnya sambil menangis.

Kesaksian lain disampaikan Rahendro Heruwibowo yang mengaku mengalami pemukulan hingga disetrum selama berada dalam penguasaan tentara Israel. Ia menyebut kekerasan terjadi sejak proses pemindahan menuju daratan.

“Saya dipukul kepala, badan depan belakang, sempat diinjak juga. Terakhir saya disetrum sampai saya teriak cukup kencang,” kata Rahendro.

Menurutnya, para relawan juga mengalami perlakuan kasar selama perjalanan penahanan, mulai dari diborgol sangat kencang, dipaksa berjalan menunduk, hingga ditendang saat terjatuh.

Sebelumnya, armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla dicegat pasukan Israel pada 18 Mei 2026. Insiden itu menyebabkan sejumlah relawan internasional, termasuk sembilan WNI, ditangkap.

Seluruh relawan kemudian dibebaskan pada Kamis (21/5) waktu setempat dan dipulangkan melalui Turki sebelum tiba di Jakarta pada Minggu sore.

Kepulangan mereka disambut keluarga, relawan kemanusiaan, serta Menteri Luar Negeri Sugiono di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Pemerintah memastikan relawan yang mengalami trauma fisik akan mendapat penanganan lebih lanjut.

Gambar Gravatar
Wartawan yang menaruh perhatian pada berita daerah dan nasional, perkembangan lokal, dengan fokus pada penyajian informasi yang faktual, terverifikasi, dan dekat dengan kebutuhan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *