Foto: Penampakan lubang raksasa di Aceh Tengah (ANTARA FOTO/Abiyyu)
Foto: Penampakan lubang raksasa di Aceh Tengah (ANTARA FOTO/Abiyyu)

Lubang Raksasa Aceh Disebut Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan BRIN

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Aceh Tengah – Lubang raksasa Aceh yang muncul di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, dipastikan bukan fenomena sinkhole. Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, yang menyebut peristiwa itu merupakan hasil proses longsoran geologi yang berlangsung dalam waktu lama.

Menurut Adrin dikutip dari detik, karakter geologi di lokasi lubang raksasa Aceh tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim memicu sinkhole, melainkan oleh material tufa dari aktivitas vulkanik Gunung Geurendong yang kini tidak aktif. Lapisan tufa tersebut tergolong muda dan belum terpadatkan secara sempurna, sehingga memiliki kekuatan rendah dan mudah runtuh.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Berdasarkan analisis citra satelit Google Earth sejak 2010, Adrin menjelaskan kawasan tersebut awalnya berupa lembah kecil yang terus melebar akibat erosi dan longsoran. Proses alamiah itu berlangsung bertahap hingga membentuk lubang besar seperti yang terlihat saat ini.

Faktor gempa bumi juga diduga mempercepat terbentuknya lubang raksasa Aceh. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diperkirakan melemahkan struktur lereng, sehingga meningkatkan ketidakstabilan lapisan tanah. Selain itu, hujan lebat menjadi pemicu utama karena membuat batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air dan kehilangan daya ikat.

Adrin menambahkan, keberadaan saluran irigasi perkebunan yang terbuka ikut mempercepat proses longsor. Air yang terus meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembapan lapisan tufa dan memperbesar potensi keruntuhan. “Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ujarnya.

Ia juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah yang menggerus batas antara lapisan tufa yang rapuh dengan batuan lebih padat di bawahnya. Kondisi tersebut menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap, bukan secara tiba-tiba, melainkan melalui proses puluhan hingga ratusan tahun.

Fenomena serupa, menurut Adrin, dapat ditemukan di wilayah lain dengan karakter batuan gunung api muda. Salah satu contohnya adalah Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera.

Hingga saat ini, BRIN belum melakukan penelitian lapangan secara langsung di lokasi lubang raksasa Aceh dan masih mengandalkan analisis citra satelit serta data publik. “Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif,” kata Adrin.

Ke depan, ia mengusulkan pembaruan peta kerentanan gerakan tanah pascakejadian ini. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal seperti retakan tanah atau amblesan kecil. Menurutnya, pemahaman terhadap proses terbentuknya lubang raksasa Aceh menjadi kunci untuk langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari.

Gambar Gravatar
Wartawan yang menaruh perhatian pada berita daerah dan nasional, perkembangan lokal, dengan fokus pada penyajian informasi yang faktual, terverifikasi, dan dekat dengan kebutuhan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *