Alaku

Kota Bengkulu Tertinggi, Jadi Magnet Wisatawan di Bengkulu Awal 2026

Wisata kawasan pantai panjang kota bengkulu, Senin (23/3/26)(dok:pemkotbkl)

BengkuluKota Bengkulu tercatat menjadi daerah dengan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) tertinggi di Provinsi Bengkulu pada Februari 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menunjukkan, mobilitas wisatawan di ibu kota provinsi itu paling dominan dibanding kabupaten/kota lainnya.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Bengkulu yang dirilis pada 1 April 2026, jumlah perjalanan wisnus tujuan ke Provinsi Bengkulu sepanjang Januari hingga Februari 2026 mencapai 1,13 juta perjalanan. Capaian ini menjadi sinyal kuat tingginya aktivitas wisata domestik di Bengkulu pada awal tahun.

Secara khusus pada Februari 2026, jumlah perjalanan wisnus tujuan ke Provinsi Bengkulu tercatat sebanyak 509.672 perjalanan. Dari angka tersebut, sebanyak 403.816 perjalanan atau 79,23 persen berasal dari dalam provinsi, sementara 105.856 perjalanan atau 20,77 persen berasal dari luar Provinsi Bengkulu.

Jika dibandingkan secara tahunan, jumlah perjalanan wisnus menuju Bengkulu pada Februari 2026 tumbuh 1,79 persen dibandingkan Februari 2025. Namun secara bulanan, angkanya mengalami penurunan 18,32 persen dibanding Januari 2026.

Di sisi lain, jumlah perjalanan wisnus asal dari Provinsi Bengkulu pada Februari 2026 juga cukup tinggi, yakni mencapai 513.419 perjalanan. Rinciannya, sebanyak 403.816 perjalanan atau 78,65 persen masih bergerak di dalam provinsi, sedangkan 109.603 perjalanan atau 21,35 persen melakukan perjalanan ke luar provinsi.

BPS mencatat, secara tahunan jumlah perjalanan wisnus asal Bengkulu meningkat 3,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, secara month to month jumlahnya turun 14,24 persen dibanding Januari 2026.

Untuk sebaran wilayah, Kota Bengkulu menjadi daerah dengan pergerakan wisatawan paling tinggi. Tercatat, perjalanan asal dari Kota Bengkulu mencapai 182.280 perjalanan, sedangkan perjalanan tujuan ke Kota Bengkulu sebanyak 158.843 perjalanan.

Selain Kota Bengkulu, daerah lain yang juga mencatat mobilitas wisatawan cukup tinggi yakni Kabupaten Rejang Lebong dengan 60.336 perjalanan asal dan 60.988 perjalanan tujuan. Selanjutnya Kabupaten Bengkulu Utara mencatat 47.753 perjalanan asal dan 60.277 perjalanan tujuan.

Tingginya mobilitas wisatawan ke Kota Bengkulu dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat daya tarik destinasi wisata, terutama di kawasan unggulan seperti Pantai Panjang. Pemerintah Kota Bengkulu sendiri terus melakukan pembenahan fasilitas dan penataan kawasan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi juga menegaskan larangan keras terhadap segala bentuk pungutan liar di kawasan wisata, khususnya Pantai Panjang. Langkah itu diambil untuk menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus memperkuat citra Kota Bengkulu sebagai destinasi wisata yang ramah dan tertata.

“Saya ingin betul kota ini banyak dikunjungi orang, orang menginap di sini, belanja di sini, sehingga warga merasakan dampak ekonominya secara langsung,” ujar Dedy Wahyudi.

Selain menertibkan pelayanan, Pemkot Bengkulu juga fokus pada perawatan kebersihan kawasan, penghijauan di sepanjang pesisir, hingga pembenahan fasilitas pendukung seperti gazebo agar destinasi wisata tetap layak dan menarik bagi pengunjung.

Sementara itu, dari sisi akomodasi, BPS mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Bengkulu pada Februari 2026 mencapai 38,92 persen. Sedangkan untuk hotel non-bintang dan akomodasi lainnya, TPK tercatat sebesar 15,18 persen.

Meski jumlah perjalanan wisatawan cukup besar, rata-rata lama menginap tamu hotel di Bengkulu masih relatif singkat. Pada Februari 2026, tamu hotel berbintang rata-rata menginap selama 1,23 malam, sedangkan tamu hotel non-bintang dan akomodasi lainnya rata-rata menginap 1,12 malam.

Data ini menunjukkan sektor pariwisata Bengkulu tetap bergerak positif pada awal 2026, dengan Kota Bengkulu sebagai pusat mobilitas wisatawan tertinggi. Namun, tantangan masih terbuka bagi pemerintah daerah untuk mendorong wisatawan tinggal lebih lama agar dampak ekonomi terhadap pelaku usaha, hotel, dan masyarakat bisa semakin besar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan