Bengkulu – Meski masuk tiga besar provinsi penghasil kopi di Sumatera dengan produksi mencapai 90 ribu ton per tahun atau 7,72 persen dari total nasional, kopi Bengkulu hingga kini belum cukup dikenal luas. Ironisnya, sebagian besar hasil panen bahkan masih tercatat sebagai produk daerah tetangga seperti Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Persoalan ini mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Penuh Inspirasi (Ngopi) yang digelar di kediaman Guru Besar Pemuliaan Tanaman Perkebunan Universitas Bengkulu (UNIB), Prof. Dr. Ir. Alnopri, M.Si, yang juga dikenal sebagai peneliti kopi konsisten, Rabu (1/10/25).
Acara yang dihadiri unsur Forkopimda Provinsi dan Kota Bengkulu, Asisten II Kota Sehmi Alnur, Kepala Instansi Vertikal, Kadis Kominfo Kota Gita Gama, OPD terkait, hingga penggiat dan petani kopi ini membahas strategi mengangkat kembali nama kopi Bengkulu di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam forum tersebut, pemerintah daerah menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari belum adanya sertifikasi internasional, keterbatasan infrastruktur, kelembagaan petani yang belum solid, hingga metode produksi yang masih tradisional dari hulu ke hilir.
Sebagai solusi, Pemerintah Provinsi Bengkulu menghadirkan program Kopi Bumi Merah Putih, sebuah strategi agroforestri berbasis konservasi dengan prinsip livelihood-sustainability nexus serta konsep forest-and-farm interface dari FAO.
Berdasarkan analisis SWOT, pengembangan kopi Bengkulu saat ini berada di posisi “Hold and Maintain” dalam Matriks IE, artinya cukup stabil namun belum kuat untuk ekspansi agresif. Kendati demikian, Pokja Kopi Bumi Merah Putih telah melakukan langkah awal seperti sosialisasi ke 32 kelompok tani, pengambilan sampel tanah, analisis desk lokasi budidaya, hingga persiapan kontrak sewa pabrik kopi di Desa Taba Pasma, Bengkulu Tengah.
Pertemuan ini sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk mempercepat kemajuan kopi Bengkulu dan memperkenalkannya ke pasar dunia melalui branding yang lebih kuat dan terarah.





