Bengkulu – SMA Negeri 11 Kota Bengkulu menjadi sekolah induk penyelenggara Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang SMA di Provinsi Bengkulu. Program ini membuka akses pendidikan bagi anak usia sekolah yang menghadapi kendala mengikuti pembelajaran melalui jalur reguler, dengan saat ini melayani 29 siswa yang tersebar di sejumlah wilayah di Bengkulu.
Kepala SMAN 11 Kota Bengkulu sekaligus Kepala Sekolah Induk PJJ Provinsi Bengkulu, Hesti Yuliani, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan belajar mengajar dalam program tersebut telah berjalan dengan sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Hesti, yang juga menjabat sebagai Ketua SANS Provinsi Bengkulu, merupakan putri asli Bengkulu Selatan, tepatnya dari wilayah Alas Maras, suku Serawai. Ia berharap program PJJ dapat menjadi salah satu upaya memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak yang belum dapat mengikuti sekolah reguler.
“Dalam pelaksanaannya, pembelajaran menggunakan komposisi 70 persen sinkronus dan 30 persen asinkronus. Sistem ini memungkinkan siswa mengikuti pembelajaran secara terjadwal sekaligus menyelesaikan kegiatan belajar secara mandiri sesuai arahan guru,” ujar Hesti, yang juga tengah menempuh pendidikan doktor Universitas Bengkulu.
Untuk mendukung pelaksanaan program, SMAN 11 Kota Bengkulu bekerja sama dengan tiga sekolah mitra, yakni SMAN 5 Bengkulu Selatan, SMAN 2 Rejang Lebong, dan SMAN 14 Mukomuko. Guru yang mengajar berasal dari SMAN 11 Kota Bengkulu dengan dukungan tenaga pendidik dari sekolah mitra.
Menurut Hesti, penunjukannya sebagai kepala sekolah induk PJJ dilakukan oleh kementerian terkait dan diperkuat melalui surat keputusan Gubernur Bengkulu. Dalam menjalankan tugas tersebut, ia mengoordinasikan pelaksanaan pembelajaran bersama sekolah mitra di berbagai wilayah provinsi.
Ia juga menyampaikan bahwa siswa yang mengikuti program PJJ tidak dikenakan biaya pendidikan. Skema ini diharapkan membantu anak-anak yang menghadapi kendala mengakses pendidikan reguler agar tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan menengah.
Hesti berharap program tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara satuan pendidikan, Pemerintah Provinsi Bengkulu, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan sekaligus menekan angka anak putus sekolah, khususnya pada kelompok usia 16–18 tahun.
“Harapan saya, ke depannya program PJJ dapat terus berkolaborasi dan bersinergi dengan pemerintah daerah untuk mendukung upaya penuntasan anak putus sekolah, khususnya di Provinsi Bengkulu,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan PJJ, SMAN 11 Kota Bengkulu diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi anak usia sekolah untuk tetap belajar dan menuntaskan pendidikan menengah sebagai bekal melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.







