Dramatis! Kepala Desa di Lebong Jadi “Bidan Dadakan”, Sambut Kelahiran Bayi di Rumahnya

Lebong – Peristiwa penuh haru terjadi di Desa Ladang Palembang, Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Kepala Desa setempat, M. Yusuf, dengan sigap menolong proses persalinan seorang warganya yang tiba-tiba melahirkan di rumahnya. Tanpa latar belakang medis, ia memberanikan diri menjadi “bidan dadakan” demi menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.
Kejadian bermula Rabu (27/8/25) jelang Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, sepasang suami istri bernama Indra dan Fitriyani datang ke rumah sang kades untuk mengurus persyaratan Jaminan Kesehatan (Jamkes). Fitriyani yang tengah hamil tua mengeluh kesakitan. Awalnya, Yusuf hanya berusaha menenangkan mereka. Namun tak lama berselang, sang ibu mengerang hebat, tanda akan segera melahirkan.
“Dalam kondisi darurat dan jauh dari rumah sakit, saya terpaksa memberanikan diri menolong. Alhamdulillah, bayi lahir dengan selamat,” ujar Yusuf kepada Beritabengkulu.id di kediamannya.
Momen menegangkan itu berlangsung hanya dalam hitungan menit. Yusuf dengan tangan kosong menyambut kehadiran bayi mungil tersebut, kemudian meletakkannya di atas perut sang ibu sesuai nalurinya.
“Alhamdulillah, Kuasa Allah, anak ini lahir di rumah saya dan saya sendiri yang menolongnya. Semoga menjadi anak yang saleh dan berbakti pada orang tua,” ucap Yusuf dengan mata berkaca-kaca.
Usai proses persalinan, ibu dan bayi segera dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Beruntung, keduanya dalam kondisi sehat dan selamat.
Aksi heroik ini sontak menuai apresiasi warga. Mereka menilai keberanian sang kades adalah bukti nyata pengabdian seorang pemimpin desa terhadap masyarakatnya, meski di tengah keterbatasan sarana kesehatan.
“Ini bukan hanya soal menolong persalinan, tetapi wujud kepedulian dan tanggung jawab moral seorang kepala desa yang tidak berpangku tangan melihat warganya kesusahan,” ungkap M. Aziz Yahya, Aktivis Hukum Lebong, Kamis (28/8/25).
Peristiwa ini tambah Aziz, menjadi pengingat bahwa di pelosok desa dengan fasilitas kesehatan terbatas, kehadiran seorang pemimpin yang peduli bisa menjadi penolong nyawa.






