Jelang Muktamar ke-35, Gus Rozin Tawarkan Visi NU Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat

Jakarta – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan visi transformasi organisasi menuju NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Gagasan tersebut disampaikan sebagai arah penguatan organisasi memasuki abad kedua agar semakin mampu melayani jamaah, menjaga persatuan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan dunia.
Menurut Gus Rozin, momentum pergantian kepemimpinan menjadi kesempatan untuk memperkuat jam’iyyah tanpa meninggalkan jati diri yang telah diwariskan para pendiri NU. Transformasi, kata dia, harus tetap berlandaskan Qanun Asasi, Khittah Nahdlatul Ulama 1926, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah.
“Terwujudnya Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyyah Ijtima’iyyah yang ta’aluf, berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat dalam mewujudkan kemaslahatan umat, bangsa, dan peradaban dunia,” menjadi visi yang diusung Gus Rozin.
Gus Rozin memiliki rekam jejak panjang di lingkungan pesantren, organisasi, dan pemerintahan. Ia merupakan murid KH MA Sahal Mahfudh dan pernah mengemban berbagai amanah strategis, di antaranya Ketua RMI PBNU, Katib Syuriyah PBNU, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, Ketua Majelis Masyayikh, serta terlibat dalam berbagai pengembangan pendidikan pesantren.
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama. Pertama, membangun NU yang berdaulat melalui tata kelola organisasi yang profesional, mandiri, dan berbasis partisipasi jamaah. Kedua, menghadirkan kepemimpinan yang bermartabat dengan mengedepankan integritas, akhlak, musyawarah, serta penghormatan terhadap tradisi keulamaan. Ketiga, memperluas manfaat NU melalui penguatan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, hingga pelayanan sosial sampai tingkat ranting.
Selain itu, Gus Rozin menawarkan lima prinsip kepemimpinan sebagai fondasi menjalankan organisasi, yakni akhlakul karimah, musyawarah, keadilan (‘adalah), khidmah, dan maslahah.
“Memimpin dengan akhlak, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, menegakkan keadilan dalam mengelola amanah, berkhidmah kepada jamaah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat,” ujar Gus Rozin.
Untuk merealisasikan visi tersebut, ia menyiapkan sejumlah agenda strategis yang meliputi penguatan ideologi Aswaja dan Khittah NU, pembenahan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, integrasi pendidikan Nahdlatul Ulama, penguatan kemandirian melalui optimalisasi aset dan filantropi, transformasi digital, pengembangan kader ulama, hingga perluasan pelayanan sosial dan diplomasi global.
Gus Rozin berharap berbagai agenda transformasi tersebut mampu membawa Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua sebagai organisasi yang semakin kokoh dalam tata kelola, berintegritas dalam kepemimpinan, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi jamaah, bangsa, dan peradaban dunia.
“NU yang besar bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman,” tegasnya.






