Bengkulu – Mandeknya penyelesaian Tempat Pembuangan Akhir TPA Air Sebakul dinilai sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah daerah dalam mengelola persoalan lingkungan dan kesehatan publik. TPA yang seharusnya menjadi solusi justru dibiarkan terbengkalai, sementara sampah terus menumpuk tanpa kepastian penanganan, Sabtu (17/1/26).
Kondisi tersebut disebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan buruknya kepemimpinan serta lemahnya tanggung jawab kekuasaan terhadap hak dasar masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Koordinator BEM Seluruh Indonesia Wilayah Bengkulu, Kelvin Malindo. Ia menegaskan bahwa pembiaran terhadap persoalan TPA Air Sebakul merupakan bentuk pengabaian terang-terangan terhadap kepentingan publik.
“Sampah yang tidak dikelola dengan serius berarti membuka ruang bagi pencemaran, munculnya penyakit, serta kerusakan lingkungan. Dampaknya ditanggung langsung oleh rakyat. Ketika pemerintah memilih diam dan lamban, maka yang bekerja adalah krisis,” ungkap Kelvin.
BEM Seluruh Indonesia Wilayah Bengkulu menilai Wali Kota Bengkulu bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu telah gagal menunjukkan keseriusan dan kepemimpinan dalam menyelesaikan persoalan TPA Air Sebakul. Praktik saling lempar kewenangan serta alasan administratif dinilai hanya menjadi cara untuk menutupi ketidakmampuan.
“Rakyat tidak membutuhkan alasan. Rakyat menuntut penyelesaian,” tegasnya.
Menurut BEM SI, apabila pemerintah daerah masih memiliki komitmen terhadap kepentingan publik, maka penyelesaian TPA Air Sebakul harus segera dilakukan secara menyeluruh, transparan, dan disertai tenggat waktu yang jelas. Tanpa langkah konkret, seluruh narasi pembangunan yang digaungkan dinilai hanya menjadi propaganda kosong di atas tumpukan sampah.
BEM Seluruh Indonesia Wilayah Bengkulu juga menegaskan bahwa mahasiswa akan terus berdiri di garis depan sebagai kekuatan kontrol sosial. Mereka menyatakan tidak akan membiarkan kelalaian ini dinormalisasi.
“TPA Air Sebakul harus diselesaikan sekarang. Kegagalan menyelesaikannya adalah kegagalan kepemimpinan,” pungkas Kelvin.







