Washington – Penggunaan AI militer AS semakin menonjol dalam operasi militer modern, termasuk dalam serangan yang berkaitan dengan konflik dengan Iran. Teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk mengolah data intelijen dalam jumlah besar agar komandan militer dapat mengambil keputusan lebih cepat di medan operasi, seperti dilaporkan Detik.
Dalam penerapannya, AI militer AS digunakan untuk menganalisis berbagai sumber informasi, mulai dari citra satelit, data drone, intersepsi elektronik, hingga laporan dari lapangan. Sistem tersebut membantu memproses dan menyaring data yang sangat besar guna mengidentifikasi potensi ancaman maupun target operasi.
Teknologi ini juga mempersingkat waktu yang biasanya dibutuhkan untuk memverifikasi informasi sebelum menentukan langkah militer. Dengan bantuan sistem AI, analis dapat langsung fokus pada evaluasi lanjutan terhadap informasi yang telah disaring.
Juru bicara US Central Command (CENTCOM), Timothy Hawkins, menjelaskan bahwa peran teknologi tersebut bersifat membantu proses analisis, bukan menggantikan manusia dalam menentukan keputusan militer.
“Teknologi AI membantu melakukan penyaringan awal data, sehingga analis manusia bisa fokus pada analisis tingkat lanjut dan verifikasi,” kata Hawkins seperti dikutip Detik dari laporan Bloomberg.
Menurutnya, berbagai perangkat berbasis AI militer AS kini digunakan untuk mempercepat proses perencanaan operasi. Sistem tersebut mampu menemukan pola dalam kumpulan data intelijen besar yang sebelumnya sulit dianalisis secara manual.
Meski demikian, keputusan akhir terkait operasi militer tetap berada di tangan manusia. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis yang memberikan gambaran awal terhadap situasi di lapangan.
Konflik yang memanas di Timur Tengah disebut menjadi salah satu ujian besar penerapan teknologi ini dalam peperangan modern. Para pejabat militer menilai kemampuan mengolah informasi dengan cepat dapat memberikan keunggulan strategis dibanding metode konvensional.
Di sisi lain, perkembangan konflik juga memicu ancaman di ranah siber. Menurut laporan media keamanan siber The Register yang dikutip detikINET, kelompok peretas yang diduga terkait pemerintah Iran dilaporkan menyusup ke sejumlah jaringan penting di Amerika Serikat.
Kelompok tersebut disebut bernama MuddyWater dan diduga berafiliasi dengan Ministry of Intelligence and Security Iran (MOIS). Para peneliti keamanan menemukan bahwa peretas menanamkan akses tersembunyi atau backdoor pada sistem yang berhasil mereka infiltrasi.
Backdoor tersebut memungkinkan pelaku memantau jaringan korban dari jarak jauh, mencuri data, hingga mempertahankan akses jangka panjang ke sistem yang telah disusupi. Target serangan dilaporkan mencakup jaringan bank di Amerika Serikat, sistem bandara, perusahaan perangkat lunak terkait industri pertahanan di Israel, hingga organisasi non-pemerintah di Amerika Utara.
Peneliti keamanan juga menemukan dua jenis backdoor baru yang digunakan dalam operasi tersebut, yakni Dindoor dan Fakeset. Salah satu di antaranya ditemukan pada jaringan bandara di Amerika Serikat.
Aktivitas peretasan ini diperkirakan sudah berlangsung sejak awal 2026. Para peneliti menilai penanaman akses tersembunyi tersebut kemungkinan merupakan bagian dari strategi “pre-positioning”, yaitu menempatkan akses lebih awal pada sistem target sebelum konflik geopolitik meningkat.
Para pakar keamanan memperingatkan bahwa keberadaan backdoor pada jaringan kritikal berpotensi menimbulkan risiko besar. Selain memungkinkan pencurian data sensitif, akses tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk operasi siber lanjutan seperti sabotase sistem atau pengumpulan intelijen jangka panjang.





