Salah satu fokus utama yang akan dikejar oleh pasangan ini, menurut Agusrin, adalah meningkatkan aliran dana ke Bengkulu, baik melalui investasi dari sektor swasta maupun melalui alokasi anggaran dari pemerintah pusat atau APBN. “Pertama, bagaimana caranya limpahkan uang sebanyaknya ke Bengkulu. Cari investor, APBN agar berlimpah ruah dan agar Kota Bengkulu layak jadi ibu kota provinsi,” tegas Agusrin. Ia menekankan bahwa Kota Bengkulu saat ini masih tertinggal dibandingkan dengan ibu kota provinsi lainnya di Indonesia, dan untuk mengejar ketertinggalan tersebut diperlukan langkah-langkah strategis yang besar dan luar biasa.
Lebih lanjut, Agusrin menjelaskan bahwa putrinya, Agi, telah dipersiapkan dengan matang untuk menjadi pemimpin sejak 10 tahun yang lalu. Agi sengaja dikirim ke luar negeri, tepatnya ke Inggris, untuk menimba ilmu dan pengalaman yang dapat diterapkan di Bengkulu. Menurut Agusrin, pemilihan Inggris sebagai tempat studi Agi bukan tanpa alasan. “Kenapa Agi saya suruh belajar di Inggris? Karena Bengkulu ini dulu pernah dijajah Inggris dan saya yakin ada chemistry antara Bengkulu dengan Inggris,” tambah Agusrin, menunjukkan keyakinannya bahwa latar belakang sejarah ini bisa menjadi modal penting dalam membangun hubungan internasional yang lebih kuat untuk kemajuan Bengkulu.




