Bengkulu – Partai Golkar Provinsi Bengkulu bersiap menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XI yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Mei 2025. Ketua Panitia Penyelenggara Musda, Samsu Amanah, menegaskan bahwa Musda ini merupakan agenda penting untuk memilih pimpinan baru di tingkat DPD I Golkar Bengkulu.
“Musda ini adalah ajang konsolidasi sekaligus seleksi kepemimpinan. Kita ingin menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Golkar Bengkulu semakin solid dan siap menghadapi tantangan politik ke depan,” ujar Samsu Amanah saat dikonfirmasi, Kamis (25/4/25).
Menurutnya, pendaftaran calon ketua DPD I Golkar akan dibuka lima hari sebelum pelaksanaan Musda. Ia memastikan bahwa mekanisme pemilihan akan berlangsung secara demokratis, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan partai.
Samsu menilai bahwa seluruh kader Partai Golkar memiliki kesempatan yang sama untuk maju sebagai calon ketua. Ia menyebut, Golkar adalah partai besar dengan kader-kader yang militan dan berpengalaman.
“Semua kader potensial, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga pusat, kita beri kesempatan yang sama. Golkar ini partai terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Siapapun yang merasa memenuhi syarat, silakan maju,” tegasnya.
Beberapa nama yang kini mulai ramai diperbincangkan di kalangan internal Partai Golkar sebagai calon ketua DPD I Golkar Bengkulu antara lain:
1. Sumardi – Ketua DPRD Provinsi Bengkulu
2. Samsu Amanah – Sekretaris DPD I Partai Golkar Bengkulu
3. Gusril Pausi – Bupati Kaur terpilih
4. Choirul Huda – Bupati Mukomuko terpilih
5. Juhaili – Anggota DPRD Provinsi Bengkulu
6. Syamsurachman – Pengurus DPP Partai Golkar
7. Derta Rohidin – Anggota DPR RI
8. Ridwan Mukti – Mantan Ketua DPD I Golkar dan Mantan Gubernur Bengkulu
Namun, nama Ridwan Mukti kini tengah disorot. Setelah bebas pada 17 November 2022 setelah menjalani hukuman kasus KPK, Ridwan kembali ditangkap oleh Kejati Sumatera Selatan. Ia tersangkut dalam kasus korupsi perizinan perkebunan sawit senilai Rp 61,3 miliar saat menjabat sebagai Bupati Musi Rawas dua periode (2005–2015).
Terlepas dari dinamika tersebut, Samsu menegaskan bahwa siapapun yang terpilih nanti harus siap merangkul semua kader. “Itu budaya kita di Golkar. Ketika terpilih, harus mampu menyatukan kekuatan. Bukan sekadar memimpin, tapi juga mempersatukan,” pungkasnya.







