Bengkulu – Eksistensi tukang sol sepatu kini kian terpinggirkan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat modern. Sol sepatu yang sebenarnya menjadi bagian penting, justru semakin jarang mendapat perhatian karena kebiasaan masyarakat yang lebih memilih membeli sepatu baru dibanding memperbaiki yang rusak.
Fenomena ini turut dialami oleh Ilal Mahdi, seorang tukang sol sepatu asal Bengkulu Utara. Ia mengaku jumlah pelanggan semakin menurun seiring bergesernya pola konsumsi generasi muda.
“Kadang sepi kadang ramai, kebanyakan anak-anak mahasiswa. Kebetulan saya dekat kampus juga,” ungkap Ilal di Bengkulu, Selasa (26/8/25).
Menurutnya, penyebab utama berkurangnya pelanggan adalah gaya hidup generasi sekarang yang cenderung konsumtif. Alih-alih memperbaiki, banyak orang lebih suka mengganti sepatu lama dengan yang baru, apalagi harga sepatu semakin terjangkau dan model terus diperbarui produsen.
“Kebanyakan pelanggan datang karena sudah tahu tempat dan jadwal operasional saya. Jadi, ketika sepatu ada yang rusak, mereka langsung menuju tempat sol,” tambahnya.
Ilal juga membandingkan usahanya dengan tukang sol keliling yang dianggap kurang diminati lantaran pelanggan harus menunggu kedatangan yang tidak pasti.
“Untuk harga upah sol tergantung jenis sepatu, rata-rata 10 sampai 15 ribu satu pasang. Kalau lokasi saya dekat kampus UINFAS Bengkulu, buka kadang tidak tentu mas,” singkatnya.
Meski terus bertahan, profesi tukang sol sepatu seperti Ilal semakin terdesak oleh tren masyarakat yang lebih mementingkan gaya hidup instan.





