Alaku
Alaku

BGN Targetkan 10.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan, Keamanan Pangan Jadi Prioritas

BGN Targetkan 10.000 Dapur MBG Terapkan Prasmanan, Keamanan Pangan Jadi Prioritas (dok:bgn)
Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000 hingga 10.000 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menerapkan sistem penyajian prasmanan hingga akhir 2026. Kebijakan ini didorong untuk menjaga makanan tetap hangat saat dikonsumsi siswa sekaligus menekan risiko keracunan, makanan rusak, dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan program MBG.

Kepala BGN Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar mengatakan, sistem prasmanan menjadi salah satu langkah pembenahan dalam pengelolaan dan penyajian makanan kepada para penerima manfaat. Ia berharap penerapan pola tersebut dapat diperluas secara bertahap ke ribuan dapur MBG di berbagai daerah.

“Target saya adalah sampai dengan akhir tahun untuk mengurangi keracunan makanan, makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling dinikmati oleh siswa ini, maka kami berharap sampai dengan akhir tahun kita bisa implementasi MBG prasmanan 5.000-10.000 dapur sudah bisa mengimplementasikan,” kata Sudaryono.

Berbeda dengan penyajian makanan secara massal, konsep prasmanan yang dimaksud BGN dilakukan berdasarkan pembagian kelas. Setiap kelas mendapatkan makanan sesuai jumlah siswa, kemudian makanan disajikan untuk disantap bersama dan perlengkapan dibereskan setelah kegiatan makan selesai.

Sudaryono mencontohkan, jika satu kelas berisi 30 siswa, dapur akan mengirimkan 30 porsi nasi, sayur, dan lauk. Seluruh makanan tersebut kemudian ditempatkan di kelas agar siswa dapat mengambil makanan dalam kondisi hangat.

“Bukan 300 orang dalam satu sekolah, kemudian bikin kayak orang kawinan, bukan. Tapi prasmanan itu disajikan per kelas-kelas. Jadi hangat-hangatnya itu di kelas-kelas,” jelasnya.

Menurutnya, pola tersebut memungkinkan kualitas makanan lebih terjaga karena tidak perlu dipanaskan kembali di lingkungan sekolah. BGN juga menekankan pengendalian suhu makanan minimal 60 derajat Celsius untuk mempertahankan kualitas sebelum dikonsumsi.

Dalam penerapannya, sistem dapur akan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing lembaga pendidikan. Untuk pondok pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang, pembangunan dapur dapat dilakukan langsung di lingkungan pesantren. Sementara pesantren dengan jumlah santri di bawah 1.000 orang dapat dilayani melalui dapur terpusat atau central kitchen.

Sudaryono juga mengungkapkan bahwa evaluasi awal terhadap 66 dapur yang telah menerapkan sistem prasmanan belum menemukan kasus keracunan makanan. Hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan BGN untuk memperluas penerapan sistem penyajian tersebut.

“Ini, jadi 66 sekarang ini sudah, kemudian kasus keracunannya enggak ada. Jadi, yang kecil-kecil bisa nambah, yang masih kurang bisa nambah, dan seterusnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut pengembangan sistem dapur terpusat dan penyajian prasmanan merupakan hasil pembelajaran dari praktik di sejumlah negara, termasuk Jepang dan beberapa negara Eropa. BGN juga mempelajari pengalaman Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), terutama terkait pergeseran pengelolaan makanan dari dapur di sekolah menuju sistem dapur terpusat.

Model central kitchen dinilai memiliki keunggulan dalam skala ekonomi dan pengelolaan operasional yang lebih terpusat. Melalui kombinasi sistem tersebut dengan penyajian prasmanan per kelas, BGN berharap kualitas makanan, keamanan pangan, dan kenyamanan siswa dalam mengikuti program MBG dapat semakin ditingkatkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan