Catatan Riswan
SAYA datang dengan perasaan datar. Dalam kepala saya, ini acara seperti agenda seremonial biasa spanduk rapi, sambutan tertib, foto bersama lalu pulang. Tapi pagi itu di Bumi Merah Putih, semua prasangka saya runtuh pelan-pelan bersamaan dengan suara kecil, lirih, nyaris bergetar, yang memanggil, “Ayah…”.
Anak itu yatim. Bajunya bersih dan disetrika rapi, sepatunya sudah agak kusam seolah sering dipakai berjalan jauh.
Matanya berbinar, tapi menyimpan rindu yang dalam. Ia berdiri di depan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, tanpa teks, tanpa skenario. Tidak takut. Tidak ragu.
Helmi tidak melakukan gestur pejabat. Ia tidak sekadar menepuk pundak atau mengangguk formal. Ia berjongkok, menatap mata anak itu sejajar, lalu tersenyum hangat. Sebuah senyum yang tidak dibuat-buat. Di momen itulah saya paham Peduli Yatim bukan urusan laporan dan angka. Ini urusan hati yang berani hadir.
Helmi Hasan tidak membawa pidato panjang. Ia membawa cerita. Ia berbicara seperti ayah kadang diselingi canda ringan yang membuat anak-anak tertawa. Tawa polos, bukan tawa formalitas. Ia menyebut mereka “anak-anak kita”, bukan “penerima bantuan”. Kalimat sederhana, tapi terasa seperti pelukan yang lama dirindukan.














