Alaku

Siswa Lempar Molotov ke SMP di Kalbar, Polisi Ungkap Tekanan Psikologis

Siswa Lempar Molotov ke SMP di Kalbar, Polisi Ungkap Tekanan Psikologis (foto: dok istimewa)

Kubu Raya – Insiden pelemparan bom molotov mengguncang lingkungan SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Peristiwa yang terjadi pada awal pekan ini mengejutkan warga sekolah karena pelakunya diketahui merupakan siswa di sekolah tersebut, sebagaimana dilaporkan detiknews.

Aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan terduga pelaku untuk mencegah dampak lanjutan. Penanganan dilakukan tak lama setelah kejadian guna memastikan situasi tetap terkendali dan aman.

“Benar, telah terjadi dugaan pelemparan bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya. Terduga pelaku sudah berhasil kami amankan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan serta menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” kata Kapolsek Sungai Raya AKP Hariyanto melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade, dilansir detikKalimantan, Selasa (3/2/2026).

Polisi memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, kejadian berlangsung mendadak dan sempat menimbulkan kepanikan di area sekolah, seperti diberitakan detiknews.

“Kejadian berlangsung secara tiba-tiba. Terduga pelaku datang ke lokasi sekolah dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang disulut api ke arah area sekolah,” jelasnya.

Percikan api dan asap sempat muncul di sekitar lokasi kejadian. Berkat respons cepat pihak sekolah bersama warga sekitar, api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke bangunan utama sekolah.

Alaku

Dari hasil pendalaman awal, aparat menemukan indikasi kuat adanya tekanan psikologis yang dialami pelaku. Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pipit Rismanto menyampaikan, secara keseharian pelaku tidak menunjukkan perilaku menyimpang di lingkungan sekolah, sebagaimana dikutip detiknews.

“Secara keseharian di sekolah, anak ini berperilaku normal. Namun tekanan mental dari persoalan keluarga diduga menjadi faktor yang berkaitan dengan kejadian ini,” ungkap Pipit dilansir detikKalimantan, Rabu (4/2).

Ia menjelaskan, sebelumnya pelaku sempat berada dalam pemantauan aparat, namun pengawasan tidak lagi dilakukan secara intensif seiring berkembangnya masalah di lingkungan keluarga. Hasil penelusuran juga mengungkap kondisi kakek dan ayah pelaku yang sedang sakit, sehingga menambah beban mental yang berdampak pada kondisi kejiwaannya.

Atas dasar tersebut, penanganan kasus ini tidak hanya difokuskan pada aspek hukum. Aparat menempatkan pendekatan pembinaan serta penelusuran akar persoalan sebagai bagian penting, mengingat pelaku masih berstatus anak di bawah umur.

“Peristiwa ini menjadi perhatian kita bersama. Saat ini kami masih mendalami akar persoalan yang dialami anak tersebut,” kata Pipit.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku
Alaku

Iklan