Perang AS-Israel Iran Memanas, Ini Definisi Kemenangan Masing-Masing Pihak
Washington – Perang AS-Israel Iran memasuki hari ketiga dengan eskalasi yang kian meluas, setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel dibalas Iran melalui gempuran ke sejumlah negara Arab yang disebut...
NasionalWashington – Perang AS-Israel Iran memasuki hari ketiga dengan eskalasi yang kian meluas, setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel dibalas Iran melalui gempuran ke sejumlah negara Arab yang disebut sebagai sekutu Washington.
Dilansir dari detik yang mengutip laporan internasional, konflik Perang AS-Israel Iran berkembang menjadi ancaman perang regional. Salah satu perkembangan terbaru adalah keputusan Inggris yang mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya di Siprus.
Situasi di lapangan masih sulit diprediksi. Begitu konflik bersenjata dimulai, kendali atas arah dan dampaknya menjadi semakin rumit. Meski demikian, masing-masing pihak telah memaparkan gambaran tentang seperti apa “kemenangan” yang mereka inginkan dalam perang ini.
Definisi kemenangan versi Trump
Sejak awal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggambarkan keberhasilan perang sebagai penghancuran total kemampuan militer Iran, khususnya sektor rudal.
“Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. Sekali lagi, dihancurkan sepenuhnya,” ujar Trump dalam pesan video yang direkam di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, AS.
“Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka. Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengganggu stabilitas kawasan bahkan stabilitas dunia, tidak bisa juga menyerang pasukan kami, dan tidak lagi menggunakan IED atau bom pinggir jalan yang menyebabkan luka parah dan kematian ribuan orang, termasuk banyak warga Amerika.”
Trump berulang kali menyebut Iran tengah mengembangkan rudal yang dapat menjangkau wilayah Amerika Serikat, meski klaim tersebut disebut tidak didukung penilaian intelijen AS. Ia juga menyatakan Iran hampir memiliki senjata nuklir, bertolak belakang dengan pernyataannya pada musim panas lalu bahwa fasilitas nuklir Iran telah “dihancurkan”.
Dalam pesan yang menandai dimulainya Perang AS-Israel Iran, Trump juga mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri apabila rezim saat ini runtuh.
“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintah kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam puluhan tahun ini. Selama bertahun-tahun, kalian telah meminta bantuan Amerika Serikat, tetapi kalian tidak pernah mendapatkannya. Tidak ada presiden yang bersedia melakukan seperti yang saya lakukan malam ini. Sekarang kalian memiliki presiden yang memberikan apa yang kalian inginkan. Jadi mari kita lihat bagaimana respons kalian.”
Namun, sejumlah analis menilai mengganti rezim hanya melalui serangan udara memiliki peluang kecil. Sejarah menunjukkan perubahan rezim di Irak pada 2003 dan Libya pada 2011 melibatkan operasi darat atau dukungan milisi bersenjata, bukan semata kekuatan udara.
Hitung-hitungan Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyampaikan sikap serupa dengan Trump. Ia mendorong rakyat Iran untuk melawan pemerintahnya, namun tetap menempatkan penghancuran kemampuan militer Iran sebagai prioritas.
Dalam pernyataannya di Tel Aviv pada Minggu (01/03), Netanyahu menyebut Israel dan AS bersama-sama akan mampu “melakukan apa yang telah ingin dicapai selama 40 tahun, yaitu menghancurkan rezim teror secara total”.
Bagi Netanyahu, Iran selama ini dipandang sebagai ancaman utama terhadap eksistensi Israel, terutama terkait dugaan ambisi pengembangan senjata nuklir. Secara politik domestik, kemenangan besar atas Iran juga berpotensi memperkuat posisinya menjelang pemilu akhir tahun ini.
Apakah rezim Iran akan runtuh?
Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara menjadi pukulan berat bagi Teheran. Namun, laporan detik menyebut sistem pemerintahan Iran dirancang untuk bertahan dari perang maupun pembunuhan tokoh kunci.
Republik Islam Iran tidak bertumpu pada satu figur semata, melainkan pada jaringan institusi politik dan keagamaan yang kompleks. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memiliki mandat eksplisit menjaga rezim, baik di dalam maupun luar negeri. IRGC diperkirakan memiliki sekitar 190.000 personel aktif dan 600.000 cadangan, serta didukung pasukan paramiliter Basij yang berjumlah ratusan ribu anggota.
Bagi pemerintah Iran, bertahannya rezim merupakan definisi kemenangan dalam Perang AS-Israel Iran. Aparat keamanan dan struktur militer yang kuat dinilai masih solid, tanpa tanda-tanda melemah seperti yang terjadi pada rezim lain di kawasan.
Ribuan warga dilaporkan turun ke jalan di Teheran usai pengumuman wafatnya Khamenei. Republik Islam juga dikenal memiliki doktrin kuat mengenai mati syahid yang tertanam dalam ideologi politik dan keagamaan negara tersebut.
Risiko preseden buruk
Sejumlah pengamat mengingatkan preseden intervensi militer sebelumnya tidak selalu berujung stabilitas. Invasi Irak pada 2003 memicu konflik berkepanjangan, sementara Libya hingga kini dinilai belum sepenuhnya pulih pascakejatuhan Muammar Gaddafi.
Iran memiliki wilayah hampir tiga kali lipat Irak dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa yang multietnis. Jika rezim runtuh secara mendadak, skenario terburuk berupa kekacauan dan perang saudara bukan tidak mungkin terjadi.
Di sisi lain, serangan militer Amerika Serikat dan Israel disebut telah menggerus kapasitas militer Iran, mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah meskipun rezim tetap bertahan.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan kepentingan politik di masing-masing negara, arah akhir Perang AS-Israel Iran masih belum dapat dipastikan. Yang jelas, konsekuensinya berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi stabilitas global.















