Alaku
Alaku

Kabut Asap Makin Pekat, PC IMM Linggau Desak Sekolah Terapkan PJJ

Kabut Asap Makin Pekat, PC IMM Linggau Desak Sekolah Terapkan PJJ

Lubuklinggau – Kabut asap yang menyelimuti Kota Lubuklinggau semakin pekat dan mulai dikeluhkan warga, terutama orang tua siswa yang khawatir kondisi udara berdampak terhadap kesehatan anak selama pembelajaran tatap muka masih berlangsung.

Keresahan itu muncul setelah sejumlah anak dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Salah seorang wali murid, Pranata, bahkan menyebut anaknya telah dua hari tidak masuk sekolah karena mengalami batuk.

Pranata mengatakan kualitas udara di Lubuklinggau berdasarkan pemantauannya melalui aplikasi IQAir pada pukul 13.00 WIB berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi tersebut, menurut dia, semestinya menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengambil langkah perlindungan terhadap pelajar.

“Saya cek per tanggal hari ini pukul 13.00 WIB. Sudah dinyatakan tidak sehat. Jadi pemerintah harus ada kebijakan, minimal menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi pelajar,” kata Pranata.

Desakan serupa disampaikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Lubuklinggau. Organisasi mahasiswa tersebut meminta Pemerintah Kota Lubuklinggau mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka, khususnya bagi siswa SD dan SMP.

Ketua Umum PC IMM Kota Lubuklinggau Wahyudi Pratama meminta Wali Kota Lubuklinggau H. Rachmat Hidayat segera mengarahkan Dinas Pendidikan mempertimbangkan pembelajaran daring selama kabut asap masih mengganggu kondisi kesehatan.

“Kami mendesak Wali Kota Lubuklinggau segera mengevaluasi proses pembelajaran tatap muka dan mempertimbangkan pembelajaran daring selama kondisi kabut asap belum memungkinkan. Keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi yang paling utama,” ujar Wahyudi.

Menurut Wahyudi, proses pendidikan tetap penting, namun perlindungan terhadap kesehatan anak tidak boleh diabaikan di tengah kondisi udara yang dikeluhkan warga. Ia mengingatkan agar langkah antisipasi dilakukan sebelum dampak kesehatan yang lebih serius muncul.

“Pendidikan itu penting, tetapi keselamatan anak-anak jauh lebih utama. Jangan sampai menunggu munculnya dampak kesehatan yang lebih serius, baru kemudian mengambil tindakan,” tegasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan