Alaku
Alaku

BGN Gandeng JICA Kembangkan MBG, Siswa Tak Hanya Makan tapi Belajar Pangan dan Gizi

BGN Gandeng JICA Kembangkan MBG, Siswa Tak Hanya Makan tapi Belajar Pangan dan Gizi (dok:bgn)

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan MBG-JICA Pilot untuk mengkaji penerapan pendekatan shokuiku dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pendekatan yang diadaptasi dari pengalaman Jepang itu menempatkan kegiatan makan di sekolah tidak sebatas pemenuhan kebutuhan pangan siswa. Makanan juga diarahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai pangan dan gizi melalui pengalaman langsung.

Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan pengalaman Jepang dapat menjadi referensi untuk memperkaya pelaksanaan MBG di Indonesia.

“Melalui kolaborasi ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya,” ujar Prima, Rabu (23/9).

Dalam konsep shokuiku di Jepang, pendidikan pangan dan gizi tidak hanya diberikan melalui pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis siswa dalam mengenal makanan serta memahami aspek gizi.

Konsep tersebut kemudian dikaji melalui MBG-JICA Pilot dengan beberapa fokus. BGN dan JICA antara lain menyoroti pengurangan sampah serta sisa makanan, perbaikan proses pengiriman dan penyajian makanan, keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, hingga pendidikan pangan dan gizi.

Pilot ini terdiri atas dua komponen yang saling berkaitan, yakni Shokkan Trial di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Shokuiku Activities di lingkungan sekolah.

Melalui Shokkan Trial, pembelajaran difokuskan pada pengalaman di sisi penyediaan layanan makanan. Sementara itu, kegiatan Shokuiku di sekolah diarahkan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai makanan dan gizi.

Prima mengatakan keterhubungan kedua komponen tersebut penting untuk melihat pelaksanaan MBG secara lebih menyeluruh, mulai dari proses penyediaan makanan hingga pengalaman siswa saat menerima dan mengonsumsinya.

“Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi,” katanya.

Selain aspek layanan, BGN juga mengkaji peluang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah. Hal itu mencakup pengalaman mereka saat makan, pemahaman terhadap makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran mengenai proses dan pihak-pihak yang berperan dalam menyediakan makanan.

Menurut Prima, pembelajaran dari Jepang nantinya tidak serta-merta diterapkan, melainkan menjadi referensi yang dapat disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

“Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi,” tuturnya.

Kolaborasi BGN dan JICA melalui MBG-JICA Pilot menjadi bagian dari upaya membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman dalam pengembangan MBG, baik pada aspek penyelenggaraan layanan maupun pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan