Bengkulu sudah punya banyak pintu untuk inovasi itu. Paket komplit! Ada cagar budaya benteng Marlborough atau rumah kediaman/pengasingan Bung Karno. Ada pula bahasa dan sastra lisan berupa pantun, dendang, cerita rakyat. Ia punya manuskrip, adat dan ritus seperti tabot dan kenduri laut. Kalau kurang, masih ada pengetahuan tradisional membaca cuaca, atau cara mengolah tanah. Ada teknologi tradisional kapal nelayan, dan anyaman. Ada seni yang terus berkembang seperti tari andun, dol, dan gamad. Ada permainan rakyat dan ada kuliner seperti pendap, tempoyak, dan kopi. Itu bahan bakar festival budaya semua. Tinggal yang kita perkuat adalah keberanian menafsirkannya.
Lalu, soal tema. Menurut saya, festival budaya tidak boleh main aman. Tema yang aman cuma untuk acara seremonial kan? Kita butuh tema yang provokatif, membumi, dan mengundang perdebatan. Misalnya: Dari Lada ke TikTok, Tabot dan Robot, atau Batik Besurek yang Terkoyak, Pendap Sedap Pendap Menjerap, Kopi Bengkulu Ngopi Mulu atau Tapak Padri dan Kutu Laut, Benteng Marlborough Buka Gerai Es Kopi, dll.














