Bengkulu – Umat Islam di seluruh dunia akan mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan pada 1 Maret 2025. Di berbagai belahan dunia, durasi puasa berbeda-beda tergantung pada lokasi geografisnya. Negara-negara di sekitar garis khatulistiwa, seperti Indonesia, menjalankan puasa selama 12-13 jam, sementara wilayah selatan bumi seperti Chile dan Selandia Baru memiliki durasi serupa.
Namun, kondisi berbeda dirasakan oleh penduduk Muslim di negara-negara dekat Kutub Utara, yang harus berpuasa jauh lebih lama karena perbedaan panjang siang dan malam yang ekstrem.
Negara dengan Puasa Ramadan Terlama 2025
Berdasarkan laporan The Islamic Information, pada Ramadan 2025, durasi puasa terlama akan dialami oleh umat Islam di Helsinki, Finlandia, dengan waktu puasa mencapai 17,5 jam.
Selain Finlandia, wilayah lain dengan durasi puasa panjang antara lain:
- Nuuk, Greenland – 17 jam
- Glasgow, Skotlandia – 16,5 jam
Sebagai perbandingan, pada Ramadan 2024, Nuuk, Greenland menjadi wilayah dengan puasa terlama, yaitu 17 jam 52 menit. Kota ini dikenal sebagai daerah terpencil di pantai barat daya Greenland dan menjadi pusat administratif serta ekonomi negara tersebut.
Di Islandia, kota Reykjavik juga mencatat durasi puasa yang cukup panjang, yaitu 17 jam 25 menit. Reykjavik merupakan ibu kota Islandia yang sudah berdiri sejak tahun 874 dan menjadi pusat budaya serta ekonomi di negara tersebut.
Negara dengan Puasa Terpendek 2025
Sebaliknya, negara-negara yang mengalami puasa dengan durasi terpendek mayoritas berada di belahan bumi selatan, seperti:
- Chile – 11,5 jam
- Indonesia – 12,5 jam
Negara-negara di dekat khatulistiwa cenderung memiliki waktu puasa yang lebih stabil, berkisar antara 12-13 jam, karena tidak mengalami perubahan ekstrem dalam panjang siang dan malam.
Dengan perbedaan durasi puasa ini, umat Islam di berbagai belahan dunia menjalankan ibadah dengan tantangan masing-masing, namun tetap dengan semangat yang sama dalam menyambut bulan suci Ramadan.





