Inflasi Bengkulu Lebih Rendah dari Nasional, BI Soroti Risiko Jelang Iduladha

Bengkulu – Deputi Perwakilan Bank Indonesia, Irfan, mengungkapkan inflasi nasional pada Maret 2026 tercatat sekitar 3,48 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan masih berada dalam kisaran target. Sementara itu, inflasi di Provinsi Bengkulu justru lebih rendah, yakni 2,85 persen yoy.
Menurut Irfan, secara bulanan inflasi di Bengkulu mencapai 0,28 persen. Kenaikan ini dipicu lonjakan permintaan masyarakat selama momentum Ramadan dan Idulfitri.
“Sejumlah komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga,” kata Irfan. Meski demikian, ia menyebut harga bahan pokok lain seperti beras, daging ayam, dan telur masih relatif stabil.
Ia memastikan, secara umum kondisi inflasi masih terkendali. Namun, Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah potensi risiko ke depan.
“Faktor musiman, dinamika harga energi, serta potensi El Niño menjadi hal yang perlu diantisipasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Bengkulu mulai memperkuat langkah pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha 1447 Hijriah.
Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Provinsi Bengkulu, RA Denni, mewakili Sekretaris Daerah, memimpin rapat evaluasi pengendalian inflasi di Ruang Rapat Merah Putih Kantor Gubernur, Selasa (28/4).
Dalam forum itu, Denni menegaskan pentingnya strategi konkret untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan pasokan pangan di tengah ketidakpastian global.
“Kesiapan menghadapi Iduladha harus dibarengi penguatan distribusi pangan agar tidak terjadi kelangkaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasaran.
Rapat tersebut turut dihadiri perwakilan Bank Indonesia, BMKG, BPS, Perum Bulog, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait guna menyatukan langkah pengendalian inflasi di daerah.






