Jakarta – Keberhasilan diplomasi dagang Prabowo Subianto kembali menuai apresiasi. Indonesia berhasil menurunkan tarif ekspor ke Amerika Serikat dari potensi 32 persen menjadi 19 persen, serta memperoleh fasilitas tarif nol persen untuk sejumlah komoditas strategis.
Kebijakan tersebut mencakup produk unggulan seperti minyak sawit, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang. Total terdapat 1.819 pos tarif yang kini mendapat akses preferensial ke pasar AS, menyusul kebijakan perdagangan era Presiden Donald Trump.
Menanggapi capaian itu, Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan Bachtiar Najamudin menilai kesepakatan dagang ini membuka peluang besar bagi penguatan perekonomian nasional berbasis koperasi di tingkat desa.
“Capaian diplomasi dagang Presiden Prabowo akan memberikan dampak nyata pada pengembangan Koperasi Merah Putih, sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja di sektor riil Indonesia,” ujar Sultan dalam keterangan resminya, Minggu (21/2).
Menurutnya, kesepakatan dagang Indonesia di tengah turbulensi geopolitik global menjadi bukti kepiawaian Prabowo dalam menerapkan politik luar negeri bebas aktif, terutama di antara negara-negara maju yang tergabung dalam G20.
Ia menambahkan, capaian positif tersebut tidak lepas dari potensi pasar kedua negara yang sama-sama besar, serta kesamaan visi pembangunan ekonomi dan komitmen terhadap agenda perdamaian dunia dari para pemimpin kedua negara.
Lebih lanjut, Sultan, yang juga mantan Wakil Gubernur Bengkulu, mendorong pemerintah daerah agar segera menindaklanjuti hasil diplomasi tersebut dengan menyiapkan ekosistem hilirisasi bagi komoditas perkebunan unggulan di masing-masing wilayah.
“Pemerintah daerah harus proaktif menyambut ‘kado’ diplomasi dagang Presiden dengan mengembangkan komoditas ekspor unggulan melalui Koperasi Merah Putih. Dalam persaingan global, selisih tarif yang signifikan sangat menentukan daya saing harga di pasar utama dunia,” pungkasnya.





