Bengkulu Tengah – Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi, angkat suara terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa SMPN 3 Kembang Sri. Ia menilai insiden tersebut seharusnya bisa dicegah jika proses pengolahan makanan dilakukan secara profesional dan higienis.
“Ini keracunan yang kesekian kalinya terjadi di Provinsi Bengkulu. Bagaimana proses memasaknya hingga bisa ada yang keracunan,” kata Sumardi dengan nada tegas.
Menurutnya, program pemenuhan gizi untuk pelajar tidak boleh menyisakan celah kesalahan, mengingat tujuannya untuk meningkatkan kesehatan anak-anak. Ia menekankan pentingnya keseriusan seluruh pihak dalam menjaga kualitas dan kebersihan makanan.
Sumardi bahkan mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto saat kegiatan retret di Magelang yang diselenggarakan Lemhanas RI. Dalam forum tersebut, pelaksanaan program pemenuhan gizi disebut harus dijalankan secara tegas dan tanpa kompromi terhadap standar keamanan.
“Kalau ada SPPG yang tidak benar, apalagi sampai membuat anak-anak keracunan, harus segera dievaluasi. Ini persoalan fatal, serius. Kalau perlu, tutup SPPG yang tidak profesional,” ujarnya menirukan pesan Presiden.
Desakan tersebut mencuat setelah tujuh siswa SMPN 3 Bengkulu Tengah dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap makan siang dari program MBG, Kamis (23/4/2026).
Dari jumlah itu, dua siswa harus menjalani perawatan intensif dengan infus di klinik pratama, sementara lima lainnya hanya menjalani observasi medis.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah mengambil langkah cepat dengan menurunkan tim kesehatan untuk menangani kasus tersebut. Sampel makanan juga telah dikirim ke laboratorium BPOM guna memastikan penyebab pasti kejadian.
Hingga kini, hasil uji laboratorium masih ditunggu. Pemerintah memastikan proses investigasi terus berjalan untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penetapan status kejadian luar biasa (KLB).





